

Market Analysis
4 Cara Membangun Portofolio Investasi yang Baik agar Cuan

JAKARTA, KOMPAS.com - Seperti industri lainnya, investasi memiliki bahasa dan mekanismenya sendiri.
Salah satu istilah yang sering digunakan investor adalah portofolio investasi, yang mengacu pada semua aset investasi Anda.
Membangun portofolio investasi mungkin tampak menakutkan, khususnya bagi investor pemula, tetapi ada beberapa langkah yang dapat Anda ambil untuk mempermudah prosesnya.
Seberapa pun Anda ingin terlibat dengan portofolio investasi Anda, selalu ada pilihan yang tepat.
Dikutip dari Nerdwallet, Senin (20/10/2025), portofolio investasi adalah kumpulan aset. Portofolio investasi dapat mencakup investasi seperti saham, obligasi, reksa dana, aset kripto, maupun dana yang diperdagangkan di bursa (ETF).
Portofolio investasi lebih merupakan sebuah konsep daripada ruang fisik, terutama di era investasi digital.
Namun demikian, portofolio investasi akan sangat membantu jika Anda membayangkan semua aset Anda di bawah satu atap.
Berikut beberapa cara membangun portofolio investasi agar Anda bisa meraup cuan alias keuntungan
1. Tentukan apakah Anda ingin melakukannya sendiri atau meminta bantuan
Jika membangun portofolio investasi dari awal terdengar seperti pekerjaan berat, Anda tidak perlu melakukannya sendiri.
Robo-advisor adalah alternatif murah yang mempertimbangkan toleransi risiko dan tujuan keseluruhan Anda untuk membangun dan mengelola portofolio investasi.
Robo-advisor adalah alternatif murah yang mempertimbangkan toleransi risiko dan tujuan keseluruhan Anda untuk membangun dan mengelola portofolio investasi.
Jika Anda ingin membangun portofolio sendiri, broker online semakin banyak menawarkan produk yang membuatnya sangat mudah. Baca juga: Cerita ASN Papua dan Driver Ojol Aceh, Belajar Investasi dari Nol hingga Bisa Beli Rumah Sebelumnya, membangun portofolio saham dan ETF individual berarti mengelola semua investasi tersebut secara individual juga. Namun kini, dengan perangkat yang tepat, investor dapat membangun portofolio saham, ETF, dan dalam beberapa kasus bahkan aset kripto.
Tak hanya itu, investor juga bisa menentukan alokasi, dan mengatur investasi berulang yang mendistribusikan dana ke seluruh portofolio, sesuai dengan alokasi yang Anda tetapkan.
Beberapa broker ini bahkan menawarkan rebalancing sekali klik, yang memudahkan Anda menjual saham yang nilainya naik, sehingga melebihi alokasi target, dan menggunakan uang tersebut untuk membeli saham yang nilainya turun dan di bawah alokasi target.
2. Pilih investasi berdasarkan toleransi risiko Anda
Salah satu hal terpenting yang perlu dipertimbangkan saat membuat portofolio adalah toleransi risiko pribadi Anda. Toleransi risiko adalah kemampuan Anda untuk menerima kerugian investasi dengan imbalan kemungkinan mendapatkan imbal hasil investasi yang lebih tinggi. Toleransi risiko tidak hanya terkait dengan berapa banyak waktu yang Anda miliki sebelum mencapai tujuan keuangan, misalnya pensiun, tetapi juga dengan bagaimana Anda secara mental menghadapi naik turunnya pasar.
Jika tujuan Anda masih jauh, Anda memiliki lebih banyak waktu untuk melewati masa-masa naik dan turun tersebut.
Ini akan memungkinkan Anda memanfaatkan perkembangan pasar secara umum. Setelah membuka rekening investasi, Anda perlu mengisi portofolio dengan aset aktual yang ingin Anda investasikan.
3. Tentukan alokasi aset terbaik untuk Anda
Jika Anda tahu Anda ingin berinvestasi sebagian besar di reksa dana, beberapa obligasi, dan beberapa saham individual, tetapi bagaimana Anda menentukan dengan tepat berapa banyak yang Anda butuhkan untuk setiap kelas aset? Cara Anda membagi portofolio di antara berbagai jenis aset disebut alokasi aset, dan sangat bergantung pada toleransi risiko.
Anda mungkin pernah mendengar rekomendasi tentang berapa banyak uang yang harus dialokasikan untuk saham versus obligasi. Aturan praktis yang umum dikutip menyarankan untuk mengurangi usia Anda dari 100 atau 110 untuk menentukan porsi portofolio yang harus didedikasikan untuk investasi saham.
4. Seimbangkan kembali portofolio investasi sesuai kebutuhan
Seiring waktu, alokasi aset yang Anda pilih mungkin tidak seimbang. Jika salah satu saham Anda naik nilainya, hal itu dapat mengganggu proporsi portofolio Anda.
Penyeimbangan kembali adalah cara Anda mengembalikan portofolio investasi ke bentuk aslinya. Jika Anda menggunakan robo-advisor, Anda mungkin tidak perlu khawatir tentang hal ini, karena penasihat tersebut kemungkinan akan secara otomatis menyeimbangkan kembali portofolio Anda sesuai kebutuhan.
Beberapa perencana keuangan menyarankan rebalancing secara berkala, misalnya setiap enam atau 12 bulan. Atau, ketika alokasi salah satu kelas aset Anda, misalnya saham, bergeser lebih dari persentase yang telah ditentukan, misalnya 5 persen. Sebagai contoh, jika Anda memiliki portofolio investasi dengan 60 persen saham dan kemudian meningkat menjadi 65 persen, Anda mungkin perlu menjual sebagian saham atau berinvestasi di kelas aset lain hingga alokasi saham Anda kembali ke 60 persen.

