

Market Analysis
Harga Emas Hari Ini, Senin 20 Oktober 2025 di Pasar Spot usai Menguat 9 Pekan Beruntun

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas di pasar spot melemah pada awal perdagangan hari ini, Senin (20/10/2025), usai mencatatkan penguatan mingguan selama sembilan pekan berturut-turut.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot melemah 0,45% ke level US$4.234,90 per troy ounce pada pukul 07.20 WIB, atau jika dikonversi sebesar Rp2,24
Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS kontrak Desember 2025 terpantau menguat 0,56% ke level US$4.236,80 per troy ounce.
Pada perdagangan Jumat pekan lalu, harga emas ditutup melemah 1,7%, penurunan harian terbesar sejak Mei. Meskipun begitu, harga emas telah menguat nyaris 6% sepanjang pekan lalu.
Untuk pertama kalinya sejak lima dekade, harga emas mencatat reli sembilan pekan beruntun. Terakhir kali reli semacam ini terjadi adalah pada awal Juni hingga awal Agustus 2020.
Meski momentum masih menguat, sejumlah analis mengingatkan agar investor tidak lengah.
Kepala Strategi Pasar FxPro Alex Kuptsikevich menilai emas sudah berada di wilayah overbought dan kini bersikap bearish.
“Setidaknya, pasar butuh jeda teknikal,” katanya seperti dikutip Kitco Metals.
Kuptsikevich mengatakan meskipun sudah menguat sembilan pekan, belum pernah ada reli emas yang bertahan hingga 10 pekan berturut-turut.
Adapun Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures Phillip Streible mengatakan volatilitas adalah keniscayaan pada level setinggi ini. Menurutnya, penurunan pada Jumat masih harus dibaca dalam bingkai reli besar yang tengah berlangsung.
“Kita memang akan menghadapi volatilitas, tetapi reli emas tetap rasional. Emas semakin dipilih sebagai aset lindung nilai seiring melemahnya aktivitas ekonomi dan meningkatnya risiko krisis perbankan regional,” jelasnya.
Fokus pelaku pasar kini tertuju pada pertemuan antara Amerika Serikat dan China, setelah Presiden Donald Trump akhir pekan lalu menyatakan optimismenya bahwa pembicaraan dengan pejabat Beijing dapat menghasilkan kesepakatan untuk meredakan ketegangan dagang.
Trump bahkan menyebut bahwa tarif tinggi yang ia ancamkan tak bisa dipertahankan lama. Tanda-tanda kemajuan nyata dalam negosiasi ini berpotensi menekan permintaan aset lindung nilai seperti emas dan perak.
Meski demikian, kegelisahan investor belum surut. Kekhawatiran muncul akibat meningkatnya risiko kredit di perbankan AS setelah dua bank regional mengungkap masalah pinjaman terkait dugaan penipuan. Kasus di Zions Bancorp dan Western Alliance Bancorp — yang akan merilis kinerja keuangan pekan ini — dipandang sebagai uji awal munculnya kembali praktik pinjaman berisiko.
Tahun ini, logam mulia menjadi salah satu aset dengan performa paling gemilang. Emas mencatat reli sembilan pekan berturut-turut dan telah naik lebih dari 60% sepanjang 2025, menopang reli oleh pembelian bank sentral dan derasnya dana masuk ke ETF emas.
Statusnya sebagai aset safe haven kian menguat di tengah ketegangan geopolitik, perang dagang, membengkaknya defisit dan utang pemerintah, serta meningkatnya tekanan terhadap independensi Federal Reserve.

