

Market Analysis
Shutdown Tak Kunjung Berakhir, Pemerintah AS Tekor Rp248 Triliun per Hari

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent memperkirakan penutupan sebagian pemerintahan federal (government shutdown) yang telah berlangsung dua pekan terakhir menimbulkan kerugian ekonomi hingga US$15 miliar atau sekitar Rp248 triliun per hari.
Dalam konferensi pers di Washington, Rabu (15/10/2025) waktu setempat, Bessent menilai dampak kebuntuan politik di Kongres mulai menggerus otot-otot perekonomian AS.
“Kami memperkirakan penutupan ini dapat menelan biaya hingga US$15 miliar per hari bagi ekonomi AS,” ujarnya dikutip dari Reuters, Kamis (16/10/2025).
Bessent menyerukan agar Partai Demokrat menjadi pahlawan dengan mendukung langkah Partai Republik untuk segera mengakhiri kebuntuan anggaran yang telah menunda sejumlah layanan publik dan data ekonomi penting.
Menurutnya, gelombang investasi besar yang saat ini mengalir ke ekonomi AS—terutama di sektor kecerdasan buatan (AI)—masih berpotensi berlanjut, tetapi terganggu oleh shutdown yang belum berakhir.
“Permintaan di sektor riil sebenarnya sangat kuat, dan Presiden Donald Trump telah memicu ledakan ekonomi lewat kebijakannya,” kata Bessent di sela-sela Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Washington.
Dia mengatakan, satu-satunya hal yang memperlambat AS saat ini adalah penutupan pemerintahan.
Bessent menilai insentif pajak dari undang-undang Partai Republik dan kebijakan tarif Trump akan menjaga momentum investasi dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
“Saya pikir kita bisa memasuki periode seperti akhir 1800-an saat rel kereta berkembang, atau seperti 1990-an saat internet dan teknologi kantor mendorong ekonomi,” ujarnya.
Defisit Anggaran AS Disebut Menyusut
Lebih lanjut, Bessent mengungkapkan bahwa defisit anggaran AS tahun fiskal 2025, yang berakhir pada 30 September, lebih kecil dibandingkan defisit tahun fiskal sebelumnya sebesar US$1,833 triliun.
Meski tidak menyebutkan angka pasti, dia memperkirakan rasio defisit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dapat turun ke kisaran 3% dalam beberapa tahun mendatang.
Departemen Keuangan AS sendiri belum merilis data resmi terkait defisit tahunan tersebut.
Sebelumnya, Kantor Anggaran Kongres (CBO) memperkirakan defisit fiskal 2025 hanya turun sedikit menjadi US$1,817 triliun, meski penerimaan bea masuk naik US$118 miliar berkat kebijakan tarif impor Trump.
“Rasio defisit terhadap PDB—yang merupakan indikator penting—kini memiliki angka 5 di depannya,” ujar Bessent
Ketika ditanya apakah targetnya menurunkan rasio itu ke angka 3, Bessent menjawab hal tersebut itu masih mungkin dilakukan
Dia menambahkan, rasio tersebut dapat turun lebih jauh jika AS meningkatkan pertumbuhan, menekan belanja, dan membatasi pengeluaran pemerintah.

