

Market Analysis
Harga Emas Dunia Diramal Tembus Rekor Baru, US$4.140 per Troy Ounce per Akhir Oktober

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas dunia dalam pembukaan pasar Asia tembus di US$4.060 per troy ons pada perdagangan hari ini, Senin (13/10/2025). Level ini menjadi rekor baru harga emas dalam perdagangan di pasar sport.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksi emas akan terus melanjutkan penguatan sepanjang pekan ini. "Ada kemungkinan Minggu ini menuju US$4.100 per troy ons, dan kalau tercapai menuju US$4.140 di akhir Oktober 2025," kata Ibrahim, Senin (13/10/2025).
Pada perdagangan Jumat (10/10), emas dunia ditutup di harga US$4.018,99 per troy ounce. Ibrahim memproyeksi untuk level support harga emas hari ini akan ada di US$3.987 dan resistance di US$4.059. Sedangkan dalam sepekan ke depan, level support diprediksi akan berada di US$3.936 dan resistance di US$4.100.
Sementara di dalam negeri, harga logam mulia emas Antam pada perdagangan Sabtu (11/10) menguat Rp5.000 menjadi Rp2,29 juta per gram. Sedangkan harga buyback juga naik menjadi Rp2,14 juta.
Ibrahim mengatakan harga emas dan logam mulia yang menanjak disebabkan oleh risiko geopolitik yang meningkat, ketidakpastian fiskal, ancaman independensi bank sentral AS, hingga pengaruh suplai dan demand.
Menurutnya, gencatan senjata di Timur Tengah hanya memberikan dampak sesaat. Meskipun terjadi koreksi harga emas di US$3.944 per troy ons saat gencatan terjadi, Ibrahim melihat hal itu disebabkan lebih karena hedge fund besar yang melakukan aksi taking profit untuk mendapatkan keuntungan dari level tertinggi.
"Pada saat sudah turun di bawah, terus melakukan pembelian besar-besaran, taking profit itu di US$4.100 per troy ons. Saya optimis emas dan logam mulia tetap melanjutkan penguatan, karena pelemahan mata uang rupiah berpengeruh terhadap kenaikan harga logam mulia," tandasnya.
Ibrahim merinci sejumlah faktor yang membuat ketidakpastian global saat ini, antara lain seperti perkembangan politik di Prancis, konflik antara Rusia dan Ukraina, sampai shutdown pemerintahan AS.
Dia mencontohkan, upaya gencatan Ukraina dan Rusia sepertinya sulit dilakukan karena Rusia kemungkinan besar keberatan mengembalikan wilayah yang telah mereka klaim.
"Ini yang membuat harga emas dunia terus mengalami kenaikan karena ketidakpastian perpolitikan di Eropa, bahwa kita tahu Rusia salah satu penghasil minyak mentah terbesar yang tergabung dalam OPEC+," ujarnya.
Sementara sentimen global yang bertiup dari negeri Paman Sam, Ibrahim mengatakan mayoritas negara bagian di AS telah jatuh dan mengalami krisis ekonomi. Kondisi ini membuat pengangguran meningkat dan lapangan tenaga kerja menyusut.
Meskipun dilanda kesulitan, hubungan AS dengan China terus memanas di mana Trump berencana mengenakan tarif bea impor 100% untuk tanah jarang dari China per awal November 2025 nanti. Ibrahim melihat akumulasi kondisi global ini akan menyengat harga emas.
"Artinya perang dagang terus memanas, dan ini yang akan membuat inflasi tidak jelas, sehingga masyarakat akan kembali berbondong-bondong melakukan pembelian logam mulia," tandasnya.

