

Market Analysis
Proyeksi Harga Emas Pekan Ini, Lanjut Reli Atau Anjlok?

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas mengawali perdagangan pekan ini di zona hijau usai ditutup dengan penguatan mingguan selama delapan pekan berturut-turut pekan lalu.
Berdasarkan data Bloomberg, Senin (13/10/2025), harga emas di pasar spot menguat 0,49% atau 19,62 poin ke level US$4.037,41 per troy ounce. Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS menguat 1,31% ke level US$4.053 per troy ounce.
Pekan lalu, harga emas menguat menyusul peringatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang kemungkinan penerapan tarif baru terhadap China, yang memicu arus dana menuju aset-aset safe haven.
Trump mengatakan tidak ada alasan untuk melanjutkan rencana pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan dalam dua minggu mendatang. Melalui unggahan di platform Truth Social, ia menegaskan bahwa Washington sedang menyiapkan peningkatan besar tarif atas impor dari China.
Setelah pernyataan tersebut, harga emas sempat kembali menembus ambang US$4.000 per ons dan mencapai level tertinggi sesi di US$4.022,52.
"Memanaskan kembali ketegangan dagang akan menekan dolar AS dan mendorong kenaikan aset safe haven seperti emas," ujar analis dan pedagang logam independen Tai Wong.
Dalam dua bulan terakhir, momentum kenaikan emas meningkat tajam hingga mendorong harga naik 51% sejak awal tahun.
Meski sentimen pasar masih sangat optimistis terhadap logam mulia, para analis memperingatkan bahwa level US$4.000 untuk emas bisa menjadi sinyal kejenuhan teknikal.
Analis Pasar Senior FXTM Lukman Otunuga mengatakan jika ketegangan di Timur Tengah mereda, pelaku pasar yang bearish bisa memanfaatkan momen ini. Namun, faktor fundamental yang kuat tampaknya akan menahan potensi penurunan harga emas dalam jangka panjang.
“Secara teknikal, penurunan di bawah US$3.950 bisa memicu koreksi, sedangkan penembusan di atas US$4.000 berpotensi membawa emas kembali ke US$4.050 dan mencetak rekor baru,” jelasnya seperti dikutip Kitco News, Sabtu (11/10/2025).
Kepala Strategi Pasar MarketGauge Michele Schneider mengaku telah melepas seluruh kepemilikannya di emas dan perak setelah melihat meningkatnya gejala FOMO di kalangan investor.
“Setelah reli sebesar ini, mengambil untung dan menunggu peluang baru adalah langkah yang sehat,” ujarnya.
Sementara itu, Analis Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha mengatakan tren teknikal emas masih berada dalam jalur bullish yang solid.
“Kombinasi candlestick dan indikator Moving Average menunjukkan tekanan beli masih kuat. Selama momentum ini bertahan, peluang kenaikan menuju area $4.100 per troy ons terbuka lebar,” jelas Andy dalam risetnya.
Namun, ia juga menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi pembalikan arah.
“Jika harga mengalami reversal dan menembus level kunci di US$3.714, peluang koreksi ke area US$3.628 perlu diantisipasi sebagai skenario alternatif,” tambahnya.

