English
English
繁體中文
Tiếng Việt
ภาษาไทย
日本語
한국어
Bahasa Indonesia
Español
Português
Русский язык
اللغة العربية
zu-ZA
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Bursa Asia Bersiap Menguat usai Reli Teknologi AS & Optimisme AI

Bloomberg Technoz · 61.3K Views

Richard Henderson - Bloomberg News

Bloomberg, Bursa saham Asia diperkirakan menguat pada Kamis (9/10) setelah indeks utama di Wall Street mencetak rekor baru, didorong oleh lonjakan saham-saham perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI).

Kontrak berjangka saham untuk Jepang, Hong Kong, dan Australia sama-sama naik di awal perdagangan Asia. Sebelumnya, indeks S&P 500 di AS ditutup menguat 0,6%, sementara Nasdaq 100 yang sarat saham teknologi naik 1,2%. Indeks saham perusahaan China yang terdaftar di AS juga naik 0,9%, menjelang dibukanya kembali pasar China daratan setelah libur panjang Golden Week.

Nvidia Corp memimpin penguatan di antara saham berkapitalisasi besar setelah CEO Jensen Huang mengatakan permintaan untuk cip seri Blackwell “sangat, sangat tinggi.” Sementara itu, Cisco Systems Inc memperketat persaingan dengan Broadcom Inc dalam pasar konektivitas pusat data berbasis AI. Indeks saham perusahaan kecil AS turut menguat 1%.

Kenaikan saham-saham AS menjadi sinyal bahwa pelaku pasar mulai mengabaikan kekhawatiran soal potensi gelembung di sektor teknologi dan lebih fokus pada ketahanan korporasi serta kemungkinan dimulainya kembali penurunan suku bunga oleh Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Kenaikan saham-saham AS menjadi sinyal bahwa pelaku pasar mulai mengabaikan kekhawatiran soal potensi gelembung di sektor teknologi dan lebih fokus pada ketahanan korporasi serta kemungkinan dimulainya kembali penurunan suku bunga oleh Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

“Dengan rasio harga terhadap laba perusahaan teknologi saat ini masih jauh di bawah puncak gelembung dotcom, kami menilai pasar bullish masih akan berlanjut,” ujar Mark Haefele, Chief Investment Officer di UBS Global Wealth Management.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun relatif stabil di level 4,13%, meski lelang surat utang senilai US$39 miliar menunjukkan permintaan sedikit di bawah ekspektasi. Indeks dolar Bloomberg naik ke level tertinggi sejak Agustus, sementara harga emas menembus US$4.000 per ons.

Yen diperdagangkan di level ¥152,66 per dolar AS pada awal sesi Asia, setelah menyentuh titik terlemah sejak Februari. Kondisi ini memunculkan spekulasi intervensi dari otoritas Jepang.

Data ekonomi Asia yang dijadwalkan rilis Kamis meliputi ekspektasi inflasi konsumen di Australia, keputusan suku bunga di Filipina, dan pesanan mesin alat berat di Jepang. Pasar saham Korea Selatan ditutup karena hari libur.

Di China, Alibaba Group Holding Ltd mengumumkan pembentukan tim internal di bidang robotika, bergabung dengan sejumlah perusahaan global yang berlomba mengembangkan produk fisik berbasis AI.

Sementara itu, SoftBank Group Corp Jepang sepakat mengakuisisi divisi robot industri milik ABB Ltd dengan nilai transaksi sekitar US$5,4 miliar. Secara terpisah, Graphcore, perusahaan desain chip asal Inggris yang dimiliki SoftBank, berencana mengumumkan paket investasi senilai £1 miliar (US$1,3 miliar) di India.

Penutupan AS

Di tengah penutupan sebagian kegiatan pemerintahan AS (government shutdown), investor menelaah risalah pertemuan terbaru Federal Reserve yang menunjukkan keinginan untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut tahun ini, meski sejumlah pejabat masih berhati-hati karena risiko inflasi.

Menurut Luis Alvarado dari Wells Fargo Investment Institute, The Fed kini semakin bergantung pada data ekonomi sebelum mengambil keputusan besar.

“Kami masih memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing seperempat poin hingga akhir tahun ini, dan dua kali lagi tahun depan,” ujarnya.

Dari Evercore, analis Krishna Guha mencatat bahwa sejumlah pejabat The Fed menyoroti pesatnya investasi di sektor teknologi tinggi, namun beberapa lainnya memperingatkan bahwa adopsi AI bisa mengurangi permintaan tenaga kerja.

“Belum ada kekhawatiran berlebihan terhadap kenaikan harga saham. Meskipun bursa terus naik sejak pertemuan September, kami tidak melihat tanda bahwa pimpinan The Fed akan mengalihkan fokus dari keseimbangan risiko inflasi dan pasar tenaga kerja ke risiko gelembung pasar,” kata Guha.

Kekhawatiran soal konsentrasi pasar yang tinggi juga masih membayangi. Jeff Buchbinder dari LPL Financial membandingkan kondisi saat ini dengan era dotcom pada 2000 silam.

Menurutnya, sektor teknologi kini menyumbang sekitar 35% dari kapitalisasi S&P 500, sedikit di atas level 33% pada Februari 2000. Meski konsentrasi pasar merupakan “risiko nyata,” valuasi perusahaan teknologi besar saat ini dinilai lebih wajar dibandingkan dengan akhir dekade 1990-an.