

Market Analysis
Harga Emas Hari Ini, Selasa (8/10) di Pasar Spot dan Berjangka usai Tembus US$4.000

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas di pasar spot terus melanjutkan penguatannya pagi ini, Rabu (8/10/2025) usai kembali mencetak rekor tertinggi pada sesi sebelumnya.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot terpantau menguat 0,31% ke level US$3.997,39 per troy ounce pada pukul 07.51 WIB, melanjutkan penguatan di sesi sebelumnya.
Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS kontrak Desember 2025 terpantau menguat 0,31% ke level US$4.016,80 per troy ounce.
Harga emas untuk pertama kalinya menembus level US$4.000 per troy ounce seiring dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve bulan ini serta meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah berlanjutnya penutupan (shutdown) pemerintah AS.
Sebagai informasi, pasar utama emas spot berada di London melalui over-the-counter (OTC) market yang menjadi tolok ukur harga global.
“Aliran dana ke emas sebagai aset safe haven terus berlanjut, sebagian dipicu oleh shutdown pemerintah AS yang belum ada tanda penyelesaian dalam waktu dekat. Permintaan emas masih cukup solid,” ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals.
Sepanjang tahun ini, harga emas sudah melonjak 51%. Reli tersebut dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari ekspektasi pemangkasan suku bunga, ketidakpastian politik dan ekonomi global, pembelian agresif bank sentral, arus masuk ke ETF emas, serta pelemahan dolar AS.
Shutdown pemerintah AS kini memasuki hari ketujuh. Kondisi tersebut menunda publikasi sejumlah indikator ekonomi utama, sehingga investor terpaksa mengandalkan data sekunder nonpemerintah untuk memprediksi arah kebijakan suku bunga The Fed.
Pasar saat ini memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat Fed bulan ini, dengan tambahan pemangkasan 25 bps lagi pada Desember.
Di sisi lain, gejolak politik di Prancis dan Jepang masih menekan pasar obligasi dan mata uang untuk hari kedua.
Sementara itu, data Bank Sentral China menunjukkan Negeri Panda ini kembali menambah cadangan emas pada September 2025, menandai pembelian selama 11 bulan berturut-turut.
Goldman Sachs juga menaikkan proyeksi harga emas Desember 2026 menjadi US$4.900 per ounce dari sebelumnya US$4.300, dengan alasan derasnya aliran dana ke ETF emas di Barat dan potensi pembelian lebih lanjut oleh bank sentral.
Ditopang Inflow ETF Emas
Arus dana jumbo ke instrumen exchange-traded funds (ETF) emas dinilai menjadi salah satu faktor pemicu reli harga emas menembus rekor baru, seiring dengan lonjakan minat investor di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
State Street Investment Management mencatat, arus dana masuk atau inflow ke ETF emas di Amerika Serikat, termasuk produk andalannya SPDR Gold Shares, mencapai rekor US$35 miliar hingga akhir September. Angka tersebut melampaui rekor sepanjang tahun sebelumnya sebesar US$29 miliar pada 2020.
Secara global, arus masuk ke ETF emas telah menembus US$64 miliar sejak awal tahun, menurut data World Gold Council (WGC), dengan rekor bulanan US$17,3 miliar pada September saja. Kondisi ini berbalik tajam dari tren empat tahun terakhir, di mana ETF emas justru mencatat arus keluar bersih US$23 miliar.
Kenaikan minat investor terhadap emas dipicu kekhawatiran valuasi pasar saham yang terlalu tinggi serta ketidakpastian kebijakan ekonomi dan geopolitik. Data LSEG menunjukkan harga emas sudah melonjak 51% sepanjang tahun ini—kenaikan terbesar sejak 1979.
“Minat investor institusi baru saja dimulai,” ujar Roukaya Ibrahim, ahli strategi komoditas BCA Research.
Dia menghitung porsi aset global di ETF emas kini mencapai 2,6%, naik dari 1,9% setahun lalu. Menurutnya, intensitas perhatian investor terhadap emas belum pernah terjadi sebelumnya.
