English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Jalan Berliku Harga Emas Menuju Tonggak US$4.000

Bisnis · 700.3K Views

image.png

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas masih tertahan di kisaran level tertingginya pada awal perdagangan Senin (29/9/2025). Meskipun begitu, momentum penguatan lebih lanjut masih terbuka mengingat masih adanya ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Melansir Bloomberg, harga emas di pasar spot diperdagangkan di level US$3.773,11 per troy ounce pada Senin (29/9) pagi waktu Singapura, hanya terpaut kurang dari US$20 dari rekor tertinggi yang dicapai Selasa lalu.

Sepanjang pekan sebelumnya, harga emas menguat 2% berkat arus masuk dana ke produk ETF berbasis emas dan meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk antara Rusia dan Eropa, yang meningkatkan permintaan aset lindung nilai.

Pekan ini, harga emas diproyeksikan kembali menguji level US$3.800 per troy ounce. Sentimen bullish ditopang pembelian besar-besaran bank sentral, arus masuk ke ETF, serta pencarian alternatif global terhadap dolar AS.

“Harga emas masih berpeluang naik lebih tinggi seiring dunia mencari pengganti dolar,” ujar Co-Portfolio Manager Gabelli Funds Chris Mancini seperti dikutip Kitco Metals.

Data inflasi terbaru juga mendukung tren ini. Indeks PCE inti, yang menjadi indikator inflasi pilihan The Fed, bertahan di 2,9% selama 12 bulan terakhir. Meski masih di atas target, inflasi dianggap terkendali karena perekonomian AS tetap tangguh.

Hal ini memberi ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga lebih lanjut, bahkan hingga 50 basis poin pada akhir tahun.

Chief Analyst FP Markets Aaron Hill menegaskan The Federal Reserve masih memiliki ruang cukup luas untuk memangkas suku bunga hingga 50 basis poin sebelum akhir tahun. Ia menilai fundamental emas saat ini sangat kuat untuk menembus level psikologis US$3.800.

“Dukungan datang dari pembelian masif bank sentral yang ditargetkan menembus 900 ton pada 2025, serta aliran masuk ETF. UBS dan ANZ bahkan memproyeksikan harga emas akhir 2025 berada di level tersebut di tengah ketegangan geopolitik. Pasar lebih berpeluang melihat lonjakan cepat ketimbang konsolidasi panjang,” kata Hill.

CME FedWatch Tool mencatat probabilitas 87% pemangkasan suku bunga pada Oktober dan 65% pada Desember.

Sentimen lain yang dapat memengaruhi gerak harga emas termasuk penantian pasar terhadap pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan pimpinan Kongres pada Senin, sehari sebelum pendanaan pemerintah federal berakhir.

Kegagalan mencapai kesepakatan anggaran sementara akan memicu penutupan pemerintahan, sekaligus menunda publikasi data ekonomi penting seperti laporan ketenagakerjaan September yang dijadwalkan Jumat mendatang.

Data tenaga kerja yang lebih lemah diperkirakan akan memperkuat alasan bagi The Fed untuk memangkas suku bunga pada keputusan Oktober. Hal ini akan meningkatkan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Meski begitu, arah kebijakan moneter masih diselimuti ketidakpastian karena pejabat The Fed berbeda pandangan dan sebagian data ekonomi terbaru justru lebih kuat dari perkiraan.

Independensi bank sentral juga ikut menjadi sorotan setelah upaya Trump untuk memberhentikan Gubernur The Fed Lisa Cook berlanjut ke Mahkamah Agung. Barclays Plc menilai emas masih relatif murah dibandingkan dolar dan obligasi AS, terutama mengingat risiko potensi hilangnya independensi The Fed, sehingga logam mulia tersebut dinilai menjadi instrumen lindung nilai yang bernilai.

Sepanjang 2025, emas telah melesat 44% dan berulang kali mencatatkan rekor baru, ditopang permintaan bank sentral dan siklus penurunan suku bunga The Fed. Harga emas berada di jalur kenaikan kuartalan ketiga berturut-turut, dengan kepemilikan ETF emas kini mencapai level tertinggi sejak 2022. Goldman Sachs dan Deutsche Bank termasuk di antara lembaga keuangan besar yang memperkirakan reli emas masih berlanjut.

Emas Menuju US$4.000

Reli harga emas yang terus mencapai rekor tertinggi diyakini belum akan berhenti. Meski diperkirakan terjadi koreksi dalam waktu dekat, tren kenaikan logam mulia ini diproyeksikan menembus level  US$4.000 per troy ounce pada 2026.

Kepala Riset Augmont Renisha Chainani mengatakan tren bullish emas jangka panjang masih sangat kuat. Hal ini karena permintaan, terutama dari bank sentral dan ETF, tumbuh jauh lebih cepat.

Meski demikian, Chainani mengingatkan harga emas saat ini sudah masuk wilayah jenuh beli dan bisa terkoreksi 5–6% dalam jangka pendek.

”Setelah konsolidasi, harga diperkirakan kembali melaju hingga menembus US$4.200 pada 2026,” ungkapnya di sela-sela India Gold Conference seperti dikutip Reuters, Selasa (16/9/2025).

Harga emas spot diperdagangkan di kisaran US$3.680 per troy ounce, setelah menyentuh rekor US$3.689,27. Sepanjang 2025, harga sudah melonjak sekitar 40%, melanjutkan kenaikan 27% pada 2024.

Mayoritas peserta India Gold Conference menilai reli emas akan berlanjut hingga 2026, ditopang pemangkasan suku bunga AS, derasnya aliran investasi, serta risiko geopolitik yang tak mereda.

“Target US$4.000 di 2026 sudah banyak dipasang analis. Tapi kenyataannya, harga selalu lebih cepat sampai dari perkiraan,” kata Kepala Pasar Institusional Global ABC Refinery Nicholas Frappell.

Direktur Metals Focus Philip Newman memperkirakan harga bisa menutup tahun di sekitar US$3.800, setelah hanya sebentar bertahan di kisaran US$3.400–US$3.500.

“Koreksi mungkin terjadi, tapi justru membuka peluang masuk bagi investor yang menunggu momentum. Dengan tren ini, emas sangat berpotensi menembus US$4.000 pada 2026,” tambahnya.