English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Proyeksi Harga Emas sepanjang Pekan Ini, Bakal Cetak Rekor Lagi?

Bisnis · 679.2K Views

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas dunia diproyeksikan kembali menguji level US$3.800 per troy ounce pekan ini, setelah reli beruntun lima pekan yang membawa logam mulia ke rekor tertinggi baru.

Pada pekan lalu, harga emas dunia ditutup di dekat level tertinggi pada Jumat (26/9). Logam mulia ini mencatat rekor mingguan kelima berturut-turut, dengan harga spot berada di US$3.775,69 per troy ounce, menguat hampir 2,5% dibanding pekan sebelumnya.

Meski indikator teknikal menunjukkan emas berada di wilayah jenuh beli, momentum penguatan tetap sulit diabaikan. Sentimen bullish ditopang pembelian besar-besaran bank sentral, arus masuk ke ETF, serta pencarian alternatif global terhadap dolar AS.

“Harga emas masih berpeluang naik lebih tinggi seiring dunia mencari pengganti dolar,” ujar Co-Portfolio Manager Gabelli Funds Chris Mancini seperti dikutip Kitco Metals.

Data inflasi terbaru juga mendukung tren ini. Indeks PCE inti, yang menjadi indikator inflasi pilihan The Fed, bertahan di 2,9% selama 12 bulan terakhir. Meski masih di atas target, inflasi dianggap terkendali karena perekonomian AS tetap tangguh.

Hal ini memberi ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga lebih lanjut, bahkan hingga 50 basis poin pada akhir tahun.

Chief Analyst FP Markets Aaron Hill menegaskan The Federal Reserve masih memiliki ruang cukup luas untuk memangkas suku bunga hingga 50 basis poin sebelum akhir tahun. Ia menilai fundamental emas saat ini sangat kuat untuk menembus level psikologis US$3.800.

“Dukungan datang dari pembelian masif bank sentral yang ditargetkan menembus 900 ton pada 2025, serta aliran masuk ETF. UBS dan ANZ bahkan memproyeksikan harga emas akhir 2025 berada di level tersebut di tengah ketegangan geopolitik. Pasar lebih berpeluang melihat lonjakan cepat ketimbang konsolidasi panjang,” kata Hill.

CME FedWatch Tool mencatat probabilitas 87% pemangkasan suku bunga pada Oktober dan 65% pada Desember.

Namun, sebagian analis mengingatkan pasar terlalu optimistis. Data tenaga kerja AS pekan depan dipandang sebagai faktor kunci. Pelemahan beruntun bisa memicu ekspektasi pemangkasan lebih cepat, tetapi jika terjadi perbaikan, dolar berpotensi menguat dan menahan reli emas.

Analis Pasar di City Index dan FOREX.com Fawad Razaqzada menilai momentum reli emas hanya akan terganggu jika terjadi perubahan besar dalam ekspektasi suku bunga.

“Emas selama ini ditopang oleh pembelian konsisten bank sentral, didorong kekhawatiran atas beban utang AS serta inflasi yang masih sulit dikendalikan. Faktor-faktor tersebut, ditambah minat spekulatif, kemungkinan besar akan menjaga harga emas tetap kuat dalam waktu dekat,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika data ekonomi pekan ini melemahkan ekspektasi pemangkasan suku bunga Desember, dolar AS berpotensi menguat dan menahan kenaikan emas. Namun, skenario sebaliknya juga berlaku.

“Secara keseluruhan, kecuali ada perubahan fundamental yang besar, saya memperkirakan faktor-faktor yang ada cukup untuk membantu emas menembus level US$3.800 dalam waktu dekat,” tegasnya.

Secara teknikal, Analis Dupoin Futures Indonesia Andy Nugraha menilai pola candlestick dan indikator Moving Average mengonfirmasi bahwa emas tetap berada dalam tren bullish yang kuat.

“Jika tekanan bullish berlanjut, emas berpotensi naik hingga ke level $3.800 pada pekan ini,” ujarnya dalam riset, dikutip Senin (29/9).

Namun, ia juga mengingatkan bahwa potensi pembalikan arah tetap ada. “Jika harga berbalik arah dan menembus key point di US$3.550, maka potensi penurunan lebih lanjut ke US$3.467 pada minggu depan perlu diantisipasi,” tambah Andy.