

Market Analysis
Optimisme Pemangkasan Bunga Fed Meredup, Harga Minyak Terkoreksi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia melemah setelah data ekonomi terbaru Amerika Serikat (AS) meredam optimisme pasar terkait pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh The Federal Reserve (The Fed).
Melansir Reuters pada Jumat (26/9/2025), harga minyak berjangka jenis Brent turun 25 sen atau 0,36% menjadi US$69,06 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS turun 33 sen atau 0,51% menjadi US$64,66 per barel.
Kedua acuan harga itu sempat melonjak 2,5% pada Rabu (24/9/2025), menembus level tertinggi sejak 1 Agustus, terdorong penurunan mengejutkan stok minyak mentah mingguan AS serta kekhawatiran gangguan pasokan akibat serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia.
Produk domestik bruto (PDB) AS tumbuh 3,8% secara tahunan pada kuartal II/2025, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, menurut laporan terbaru Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS pada Kamis.
“Reaksi awal atas data tersebut adalah aksi jual,” ujar Phil Flynn, Senior Analyst di Price Futures Group.
Data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan membuat The Federal Reserve cenderung lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga.
Bank sentral AS pekan lalu telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, pemangkasan pertama sejak Desember, dan memberi sinyal masih ada ruang pelonggaran lebih lanjut.
“Kondisi pasar saat ini cenderung risk-off,” kata Giovanni Staunovo, Commodity Analyst di UBS. Ia menambahkan, dua hari berturut-turut penurunan bursa saham AS ikut menekan harga minyak.
Tekanan harga juga datang dari ekspektasi bearish di sisi fundamental pasokan, dengan tambahan suplai diperkirakan segera masuk dari Irak dan Kurdistan.
“Kembalinya pasokan dari Kurdistan memunculkan kembali kekhawatiran oversupply, mendorong harga terkoreksi setelah sempat mendekati level tertinggi tujuh pekan,” jelas Priyanka Sachdeva, Senior Market Analyst di Phillip Nova.
Arus minyak dari Kurdistan Irak diperkirakan kembali dalam beberapa hari ke depan setelah delapan perusahaan minyak menandatangani kesepakatan dengan pemerintah federal Irak dan pemerintah regional Kurdistan pada Rabu.
Namun, harga minyak mendapat sedikit dukungan setelah Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak pada Kamis menyatakan Rusia akan memberlakukan larangan parsial ekspor solar hingga akhir tahun, sekaligus memperpanjang larangan ekspor bensin yang sudah berlaku, menyusul serangkaian serangan drone Ukraina ke kilang minyak Rusia.

