

Market Analysis
Stok AS Menurun, Harga Minyak Global Mendidih ke Level Tertinggi

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia melonjak sekitar 3% ke level tertinggi dalam tujuh pekan setelah stok minyak mentah AS secara mengejutkan turun di tengah gangguan pasokan dari Irak, Venezuela, dan Rusia.
Melansir Reuters pada Kamis (25/9/2025), harga minyak berjangka Brent naik US$1,68 atau 2,5% menjadi US$69,31 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,58 atau 2,5% menjadi US$64,99 per barel.
Penutupan ini merupakan yang tertinggi untuk Brent sejak 1 Agustus dan untuk WTI sejak 2 September.
Administrasi Informasi Energi (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah AS turun 607.000 barel pekan lalu. Angka ini berlawanan dengan perkiraan kenaikan 235.000 barel menurut jajak pendapat Reuters, meski lebih kecil dari penurunan 3,8 juta barel yang dilaporkan American Petroleum Institute (API) sehari sebelumnya.
“Laporan ini cukup mendukung mengingat penurunan terjadi di semua lini, baik minyak mentah, distilat, maupun bensin,” ujar John Kilduff, mitra di Again Capital.
Harga minyak juga terdorong oleh kabar bahwa militer Ukraina menyerang dua stasiun pompa minyak di wilayah Volgograd, Rusia. Status darurat diberlakukan di Novorossiisk, pelabuhan utama Rusia di Laut Hitam yang juga menjadi terminal ekspor minyak dan gandum.
“Fokus belakangan ini kembali bergeser ke Eropa Timur dan kemungkinan sanksi baru terhadap Rusia,” kata analis PVM Oil Associates, Tamas Varga.
Rusia kini menghadapi kekurangan sejumlah jenis bahan bakar akibat serangan drone Ukraina yang mengurangi kapasitas kilang, menurut pelaku pasar. Serangan tersebut merupakan strategi Kyiv untuk menekan pendapatan ekspor energi Moskow.
Kementerian Keuangan Rusia juga mengusulkan kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) dari 20% menjadi 22% pada 2026 guna mendanai belanja militer dan menekan defisit anggaran, yang membengkak di tahun kelima perang Ukraina.
Sebagai produsen minyak terbesar kedua dunia pada 2024 setelah AS, Rusia merupakan anggota OPEC+ bersama negara-negara OPEC dan sekutunya.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan yakin Ukraina dapat merebut kembali seluruh wilayah yang diduduki Rusia. Pernyataan ini menandai pergeseran retorika mendukung Kyiv, setelah sebelumnya pemerintahan Trump mendesak Uni Eropa mempercepat penghentian impor minyak dan gas Rusia.
Aktivitas AS dan Sanksi Iran
Di dalam negeri, aktivitas produksi minyak dan gas di negara bagian utama penghasil energi seperti Texas, Louisiana, dan New Mexico tercatat menurun tipis pada kuartal III/2025, menurut laporan Federal Reserve Dallas.
Dari Iran, Menteri Minyak Mohsen Paknejad menegaskan tidak ada tambahan pembatasan baru atas ekspor minyak, dan penjualan ke China tetap berlanjut meski negosiasi dengan negara Eropa terkait pencegahan kembalinya sanksi PBB masih berlangsung.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan di hadapan Sidang Umum PBB bahwa Teheran tidak berniat mengembangkan senjata nuklir, beberapa hari sebelum sanksi internasional berpotensi diberlakukan kembali terkait program nuklirnya. Iran merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC pada 2024 setelah Arab Saudi dan Irak.
Selain itu, Chevron memangkas ekspor minyak dari Venezuela akibat masalah perizinan AS, yang turut memperkuat sentimen bullish jangka pendek di pasar.
Meski demikian, harga minyak tetap naik kendati delapan perusahaan minyak internasional yang beroperasi di Kurdistan Irak telah mencapai kesepakatan prinsip dengan pemerintah federal Irak dan pemerintah regional Kurdi untuk melanjutkan ekspor minyak.
Irak sendiri merupakan produsen minyak mentah terbesar kedua di OPEC pada 2024, berdasarkan data energi AS.

