

Market Analysis
Reli Wall Street Terhenti Usai Pidato Powell

Bloomberg, Reli pasar saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street yang memecahkan rekor terhenti pada Selasa malam (23/9). Saham-saham teknologi yang sensitif terhadap suku bunga melanjutkan pelemahan setelah Gubernur bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell tidak memberi sinyal akan mendukung pemangkasan suku bunga pada pertemuan Oktober mendatang.
Indeks S&P 500 ditutup turun 0,6% di New York, meski masih berada dekat level tertingginya. Sementara itu, indeks Nasdaq 100 yang sarat saham teknologi melemah 0,7%, dengan sebagian besar anggota “Magnificent Seven” mencatat penurunan. Micron Technology Inc, produsen cip memori komputer terbesar di AS, memberikan proyeksi optimistis untuk kuartal berjalan setelah penutupan pasar, yang berpotensi memberi dorongan baru bagi saham teknologi.
Dalam pidatonya, Powell mengatakan prospek pasar tenaga kerja dan inflasi masih menghadapi risiko. Ia menegaskan kembali pandangannya bahwa para pengambil kebijakan The Fed harus melalui jalan sulit dalam mempertimbangkan pemangkasan suku bunga lebih lanjut.
“Peringatan Powell agar tidak memangkas terlalu agresif menyoroti perpecahan yang makin besar di internal The Fed,” kata Natalie Gallagher, ekonom utama di Board. “Perbedaan itu sendiri telah menjadi katalis pasar, menambah ketidakpastian terhadap laju pemangkasan suku bunga.”
Sejumlah pejabat The Fed lain juga menunjukkan perbedaan pandangan. Gubernur The Fed Michelle Bowman menilai pembuat kebijakan berisiko tertinggal dan perlu bertindak tegas menurunkan suku bunga seiring pelemahan pasar tenaga kerja. Sebaliknya, Gubernur The Fed Atlanta Raphael Bostic memperingatkan potensi inflasi tambahan dan menekankan perlunya kewaspadaan terhadap tekanan harga.
Investor pada Selasa juga melakukan aksi ambil untung terhadap saham Nvidia Corp. Sehari sebelumnya, saham produsen cip ini membantu mendorong S&P 500 ke rekor penutupan ke-28 tahun ini setelah mengumumkan kerja sama dengan OpenAI, termasuk rencana investasi hingga US$100 miliar untuk pembangunan pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan.
Kenaikan S&P 500 awal pekan ini telah mendorong valuasi pasar ke level yang dinilai mirip gelembung. Perkiraan laba perusahaan pun terpecah: meningkat pada 10 saham terbesar, namun menurun untuk mayoritas lainnya.
Dengan hanya segelintir saham yang menyumbang porsi besar kapitalisasi pasar dan imbal hasil indeks, Kevin Gordon, kepala strategi investasi di Charles Schwab, menilai investor menghadapi risiko penyempitan pasar yang bergantung pada sedikit saham dominan.
“Dinamika ini bisa mendistorsi persepsi kesehatan pasar, karena kenaikan indeks dapat menutupi kelemahan mayoritas saham,” kata Gordon. “Bagi investor ritel, risiko yang muncul adalah portofolio yang terlalu dekat dengan indeks berbobot kapitalisasi menjadi lebih rentan terhadap guncangan spesifik perusahaan atau sektor, sehingga manfaat diversifikasi berkurang.”
Perhatian pasar kini tertuju pada Jumat mendatang ketika data indeks harga PCE inti akan dirilis. Bloomberg Intelligence memperkirakan indikator tersebut naik 0,2% pada Agustus, cukup untuk membuat laju inflasi inti tahunan tetap di 2,9%.
“PCE pada Jumat adalah ujian penting,” ujar Gallagher dari Board. “Jika PCE inti tahunan di bawah 2,8%, itu akan mendukung reli ekuitas dan memperkuat ekspektasi pelonggaran. Namun, bila di atas 3%, The Fed bisa terpaksa mengubah arah kebijakan. Ini adalah data terpenting minggu ini.”
Dari sisi saham individu, Kenvue Inc bangkit dari rekor terendah usai pernyataan Presiden Donald Trump yang meminta ibu hamil menghindari Tylenol mendapat kritik tajam dari peneliti. Sementara itu, Boeing Co menguat setelah mendapat pesanan dari Uzbekistan Airways, dan Dubes AS untuk China menyebut pesanan besar dari negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu segera difinalisasi.
