

Market Analysis
Bank of Japan Tahan Suku Bunga, Siap Lepas Kepemilikan Jumbo ETF

Bisnis.com, JAKARTA — Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga acuan di level 0,5% dan mengumumkan rencana untuk mulai melepas kepemilikan besar exchange-traded fund (ETF) dan Japan Real Estate Investment Trusts (J-REITs).
Dalam pernyataan kebijakan yang dikutip dari Bloomberg, Jumat (19/9/2025), keputusan mempertahankan suku bunga sejalan dengan proyeksi 50 ekonom yang disurvei Bloomberg.
Namun, untuk pertama kalinya sejak menjabat, Gubernur BOJ Kazuo Ueda menghadapi dua suara berbeda dalam pemungutan suara dewan, yakni 7 berbanding 2, yang mendorong agar suku bunga dinaikkan.
Selain itu, BOJ juga menyebut pelepasan aset akan dilakukan dengan skala mirip penjualan saham perbankan pada dekade 2000-an. Bank sentral berencana melepas ETF senilai sekitar 620 miliar yen (US$4,2 miliar) per tahun berdasarkan nilai pasar, setelah persiapan teknis selesai.
Pasar langsung bereaksi setelah pengumuman tersebut. Indeks Nikkei 225 terkoreksi, sementara yen yang sebelumnya menguat terhadap dolar terus menambah kenaikan. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun juga naik tipis.
Ini menjadi kali pertama BOJ secara terbuka menyebut rencana melepas ETF, yang saat ini bernilai buku sekitar 37 triliun yen, tetapi jika dihitung berdasarkan nilai pasar mencapai 74,5 triliun yen per Maret 2025.
BOJ sempat menjadi pemegang saham terbesar di Jepang pada 2020 lewat program stimulus moneter agresif, yang dihentikan tahun lalu.
Nilai kepemilikan ETF tersebut terus naik seiring reli pasar saham yang membawa Nikkei 225 melonjak 26% sejak awal tahun fiskal, bahkan menembus rekor tertinggi pekan ini.
BOJ sebelumnya butuh hampir 18 tahun untuk melepas seluruh saham perbankan yang dibelinya saat krisis keuangan 2000-an, sejak mulai menjual pada Oktober 2007 hingga tuntas pada Juli 2025. Ueda menilai pengalaman itu bisa menjadi acuan dalam strategi pelepasan ETF.
Keputusan mempertahankan suku bunga juga mencerminkan kehati-hatian di tengah ketidakpastian politik domestik, setelah Perdana Menteri Shigeru Ishiba mengumumkan pengunduran dirinya yang memicu persaingan kepemimpinan baru.
Di sisi lain, pejabat BOJ masih mengkaji dampak tarif AS terhadap perekonomian Jepang.
Meski begitu, pernyataan kebijakan BOJ tetap menegaskan proyeksi inflasi akan sejalan dengan target pada paruh kedua periode tiga tahun ke depan. Hal ini memberi sinyal bahwa ruang untuk kenaikan suku bunga lanjutan masih terbuka.
Menurut survei Bloomberg, lebih dari sepertiga pengamat BOJ memperkirakan kenaikan suku bunga dapat terjadi pada Oktober, sementara hampir 90% meyakini langkah tersebut akan diambil paling lambat Januari 2026.
Adapun, fokus pasar kini tertuju pada konferensi pers Ueda pukul 15.30 waktu Tokyo, terutama terkait detail rencana pelepasan ETF serta indikasi waktu kenaikan suku bunga berikutnya.

