

Market Analysis
Harga Emas Dunia Lengser dari Rekor Tertinggi Usai The Fed Pangkas Suku Bunga
NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia terkoreksi pada perdagangan Rabu (17/9/2025) waktu setempat setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di atas 3.700 dollar AS per ons.
Koreksi harga emas terjadi usai bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memangkas suku bunganya.
Mengutip Reuters, pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat atau Kamis pagi WIB, harga emas di pasar spot turun 0,9 persen menjadi 3.658,25 dollar AS per ons.
Pada perdagangan hari sebelumnya, Selasa (16/9/2025), harga emas di pasar spot mencapai rekor tertinggi dengan berada di level 3.707,40 dollar AS.
Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember melemah tipis 0,2 persen ke level 3.717,80 dollar AS per ons.
The Fed pada pertemuan pekan ini memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 4,00-4,25 persen, pemotongan pertama di tahun ini setelah terakhir menurunkan suku bunga tiga kali sepanjang 2024.
Koreksi harga emas pun terjadi setelah pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang dinilai memberi sinyal kehati-hatian dalam arah kebijakan moneter ke depan.
Powell menyebut keputusan suku bunga ke depannya akan ditentukan secara bertahap dari satu pertemuan ke pertemuan, menyesuaikan kondisi ekonomi yang berkembang.
Meski begitu, Tai Wong, seorang pedagang logam independen, mengatakan hal yang wajar jika emas turun setelah mencapai harga tertinggi sebab investor melakukan aksi ambil untung.
"Asumsi pasar wajar mengambil keuntungan setelah emas menyentuh rekor. Koreksi atau konsolidasi justru sehat bagi reli emas. Selama harga tidak turun di bawah level support teknikal 3.550 dollar AS, tren naik jangka pendek masih tetap kuat," ujar Tai Wong, pedagang logam independen.
Di sisi lain, indeks dollar AS juga menguat 0,25 persen ke level 96,87.
Penguatan ini membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga menurunkan minat investor terhadap emas.
Emas biasanya diminati ketika suku bunga turun, sebab imbal hasil aset investasi lainnya seperti obligasi dan deposito ikut menurun, sehingga emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih menarik sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Menurut para analis, kenaikan harga emas yang sudah terjadi sepanjang tahun ini ditopang oleh pembelian bank sentral, meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan perdagangan, serta pelemahan dollar AS.
Sejak awal 2025, harga emas sudah melesat sekitar 39 persen.
Deutsche Bank bahkan menaikkan proyeksi harga emas tahun depan menjadi rata-rata 4.000 dollar AS per ons, naik dari sebelumnya 3.700 dollar AS.
Baca juga: Harga Emas Berpotensi Tembus 4.000 Dollar AS, Analis Finex: Trader Perlu Cermati Peluang
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com. Download di sini
