

Market Analysis
Pecah Rekor Dunia Lagi, Ini Fundamental & Arah Saham Emas

Bloomberg Technoz, Jakarta - Reli harga emas dunia memberi berkah bagi emiten tambang emas di Tanah Air, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI). Keduanya mendapat rating buy oleh analis terutama karena kenaikan harga emas diproyeksi berlanjut.
Pada perdagangan Selasa (16/9/2025), harga emas dunia di pasar spot ditutup di US$3.694,1/troy ons. Menguat 0,4% dari hari sebelumnya dan menjadi rekor tertinggi sepanjang masa. Dalam perdagangan intraday, harga emas bahkan sempat di atas US$3.700/troy ons. Ini pun menjadi rekor harga tertinggi sepanjang sejarah.
Kompensasi Harga untuk ANTM
Analis OCBC Sekuritas Devi Harjoto mengatakan reli harga emas dunia menjadi penopang kinerja ANTM. Meski volume penjualan emas diperkirakan melandai pada paruh kedua 2025 karena peralihan ke pasokan domestik, asumsi harga rata-rata emas tahun ini justru direvisi naik menjadi US$3.100 per troy ons dari sebelumnya US$3.000.
“Kenaikan harga ini membuat penjualan emas ANTM tetap berpotensi tumbuh sekitar 5% YoY menjadi 1,47 juta ons,” kata Devi dalam risetnya, dikutip Rabu (17/9/2025).
Selain itu, ANTM juga tengah membangun fasilitas pencetakan emas mikro di Gresik dengan kapasitas 30 ton per tahun yang ditargetkan beroperasi pada 2027, sekaligus memperkuat penetrasi pasar ritel. Di sisi lain, ANTM juga bersiap mengoperasikan smelter SGAR Mempawah, di mana perseroan memegang 40% saham, yang bakal menjadi katalis baru bagi penjualan bauksit dan strategi integrasi bisnis.
OCBC Sekuritas merekomendasikan buy saham ANTM dan mengerek target harga menjadi Rp4.150/saham.
Berdasarkan survey Bloomberg, sebanyak 22 analis merekomendasikan buy saham ANTM. Hanya ada enam analis yang merekomendasikan hold tanpa satu pun analis merekomendasikan sell.
Target harga saham ANTM secara konsensus dalam survey tersebut ada di Rp3.653/saham untuk 12 bulan ke depan.
Kinerja ARCI Balik Arah
Selain ANTM, berkah harga emas juga disebut akan menguntungkan ARCI. Tim Analis Mandiri Sekuritas bahkan menyebut produksi emas ARCI merupakan terbesar ketiga setelah Freeport dan PT United Tractors Tbk (UNTR).
Posisi ini membuat ARCI unggul di tengah momentum kenaikan harga emas yang diprediksi terus berlanjut akibat kebijakan pelonggaran The Fed, meningkatnya risiko geopolitik, serta permintaan yang kian besar dari bank sentral dan ETF.
Terlebih, ARCI membalikkan kinerja pada kuartal II-2025 berkat pulihnya tambang Araren berkadar emas tinggi dan bersiap menambah dorongan dari proyek tambang bawah tanah Kopra yang ditargetkan beroperasi akhir tahun, sehingga produksi diproyeksikan melonjak dari 127 ribu ons pada 2025 menjadi 211,5 ribu ons pada 2028 dengan potensi kenaikan cadangan signifikan dari hasil eksplorasi.
“Pendapatan ARCI diproyeksikan tumbuh dengan CAGR naik 29% pada 2024–2028, didorong terutama oleh peningkatan kadar emas, bukan ekspansi kapasitas,” kata Tim Analis.
Produksi diproyeksikan menembus 200.000 ons pada 2028, dengan margin EBITDA melebar ke 35–38% dan laba bersih melonjak dari US$10,5 juta pada 2024 menjadi US$169,6 juta pada 2028, sekaligus membuka peluang dividen dengan yield hingga 7,6%.
Mandiri Sekuritas merekomendasikan buy saham ARCI dengan target harga Rp1.400/saham.
Selain Mandiri Sekuritas, hanya ada dua perusahaan sekuritas yang menyematkan rating untuk saham ARCI, yakni UOB Kay Hian dan Astronacci. Keduanya merekomendasikan buy. Adapun target harga konsensus Rp1.215/saham untuk 12 bulan ke depan.
JP Morgan Belum Bullish ke UNTR
Tim Analis JP Morgan masih menyematkan rating netral untuk UNTR, meski perusahaan baru saja meneken perjanjian jual beli tambang emas milik PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB).
Pasalnya UNTR menurunkan panduan operasional 2025 untuk kontraktor tambang Pamapersada (Pama) dan penjualan alat berat big machine. Prospek 2026 juga dinilai berhati-hati, dengan manajemen belum memperkirakan adanya pertumbuhan signifikan hingga 2027.
