

Market Analysis
OPEC+ Bakal Genjot Produksi, Harga Minyak Anjlok

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah global anjlok lebih dari 2% pada perdagangan Rabu (3/9/2025) menjelang pertemuan utama OPEC+ akhir pekan ini. Aliansi produsen minyak tersebut diperkirakan akan membahas langkah peningkatan produksi mulai Oktober.
Melansir Reuters, Kamis (4/9/2025), harga minyak Brent ditutup melemah US$1,74 atau 2,52% ke level US$67,4 per barel. Adapun harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup melemah US$1,62 atau 2,47% ke US$63,97 per barel.
Dua sumber yang mengetahui pembahasan mengatakan, delapan anggota OPEC+ akan mengajukan opsi penambahan produksi dalam pertemuan pada Minggu (7/9) mendatang. Langkah ini dipandang sebagai strategi kelompok yang menguasai hampir separuh pasokan minyak dunia untuk merebut kembali pangsa pasar.
Jika terealisasi, OPEC+ akan mulai melonggarkan pemangkasan tambahan sebesar 1,65 juta barel per hari, atau sekitar 1,6% dari total permintaan global dan setahun lebih cepat dari rencana awal.
Sebelumnya, OPEC+ telah menyepakati penambahan produksi 2,2 juta barel per hari dari April hingga September, ditambah tambahan kuota 300.000 barel untuk Uni Emirat Arab.
Namun, kenaikan produksi OPEC+ sejauh ini kerap tidak sesuai janji karena sebagian anggota harus mengoreksi kelebihan produksi, sementara lainnya terkendala keterbatasan kapasitas.
“Jika produksi benar-benar naik sesuai kuota baru, pasar berpotensi mengalami surplus besar mulai September 2025 hingga 2026, dengan persediaan menumpuk kecuali ada kebijakan pembatasan ulang,” ujar analis SEB Ole Hvalbye.
Selain faktor OPEC+, harga minyak juga ditekan data ekonomi AS yang suram. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan lowongan kerja pada Juli anjlok ke 7,181 juta, jauh di bawah perkiraan 7,378 juta. Awal pekan ini, data manufaktur AS juga menunjukkan kontraksi selama enam bulan berturut-turut.
Pelaku pasar kini menanti data resmi pemerintah mengenai stok minyak mentah AS yang akan dirilis Kamis, setelah American Petroleum Institute (API) memperkirakan persediaan naik 622.000 barel pada pekan yang berakhir 29 Agustus 2025.
Sementara itu, kilang Dangote di Nigeria terpaksa menghentikan sebagian operasinya akibat kebocoran katalis dan masalah teknis lain. Proses perbaikan diperkirakan berlangsung setidaknya dua pekan.
Kilang Dangote berkapasitas 650.000 barel per hari dan digadang-gadang menjadi yang terbesar di Afrika.

