

Market Analysis
Imbas Tarif Trump, PMI Manufaktur AS Terkontraksi 6 Bulan Beruntun

Bisnis.com, JAKARTA – Aktivitas manufaktur Amerika Serikat terkontraksi selama enam bulan beruntun pada Agustus 2025 akibat tekanan tarif impor era Trump. Pelaku industri menyebut kondisi ini lebih buruk dibandingkan krisis 2007–2009.
Melansir Reuters pada Rabu (3/9/2025), Institute for Supply Management (ISM) melaporkan purchasing managers index (PMI) manufaktur AS naik tipis ke 48,7 dari 48,0 pada Juli. Angka di bawah 50 menandakan kontraksi pada sektor manufaktur, yang menyumbang 10,2% terhadap perekonomian AS. Survei Reuters sebelumnya memperkirakan PMI akan naik ke 49,0.
Hasil survei ISM juga menunjukkan keluhan dari sejumlah produsen yang menyebut tarif impor membuat aktivitas produksi di AS semakin sulit. Presiden Trump membela kebijakan proteksionisnya—yang mendorong tarif rata-rata AS ke level tertinggi dalam seabad terakhir—dengan alasan untuk membangkitkan kembali basis industri domestik yang terus menurun.
Data pemerintah memperlihatkan belanja pembangunan pabrik turun pada Juli dan tercatat anjlok 6,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ketidakpastian bisnis semakin bertambah setelah pengadilan banding AS pada pekan lalu menyatakan sebagian besar tarif Trump ilegal.
“Saya melihat ekonomi secara keseluruhan, khususnya sektor manufaktur, masih dalam pola bertahan hingga ketidakpastian terkait tarif mereda,” ujar Stephen Stanley, Kepala Ekonom AS di Santander U.S. Capital Markets.
Tujuh industri, termasuk tekstil, logam dasar, dan manufaktur lainnya, mencatat pertumbuhan pada Agustus. Namun, 10 industri lain mengalami kontraksi, seperti kertas, mesin, peralatan listrik, komponen, hingga produk komputer dan elektronik.
Tarif impor terus menjadi keluhan utama. Produsen peralatan transportasi menilai kondisi saat ini lebih buruk daripada krisis 2007–2009 dengan tidak ada aktivitas sama sekali, yang sepenuhnya dikaitkan dengan kebijakan tarif dan ketidakpastian yang ditimbulkannya. Sebagian bahkan menyebut situasi ini mengarah pada stagflasi.
Produsen peralatan listrik, elektronik, dan komponen mengeluhkan bahwa label “Made in USA” semakin sulit diwujudkan karena tarif atas berbagai komponen impor.
“Pemerintahan ingin lebih banyak pekerjaan manufaktur di AS, tapi justru pekerjaan berkeahlian tinggi dengan gaji besar yang hilang,” demikian salah satu komentar dalam survei ISM.
Banyak perusahaan menahan belanja modal dan perekrutan akibat ketidakstabilan perdagangan dan ekonomi.
Sementara itu, produsen komputer dan elektronik melaporkan tarif telah mengacaukan rencana produksi.
“Rencana relokasi produksi ke AS terkendala biaya material yang lebih tinggi, membuat justifikasi kepulangan industri menjadi sulit,” ungkap komentar lain dalam survei tersebut.
Adapun produsen makanan, minuman, dan tembakau memperingatkan produk berbahan gula organik akan melonjak signifikan setelah AS mengenakan tarif 50% terhadap impor gula dari Brasil dan menghapus kuota khusus untuk gula oleh Departemen Pertanian.

