

Market Analysis
Harga Buyback Emas Antam Naik Dekati Rekor ATH Rabu (3/9)

Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan harga buyback emas Antam melesat Rp26.000 mendekati posisi rekor tertinggi sepanjang masa pada Rabu (3/9/2025) didorong ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Berdasarkan data Logam Mulia, harga buyback yang menjadi acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menguat Rp26.000 ke Rp1.882.000. Posisi itu hanya terpaut Rp6.000 dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di Rp1.888.000 pada 22 April 2025.
Dengan kenaikan itu, harga buyback emas Antam tercatat telah menguat 37,87% untuk periode berjalan 2025.
Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.
Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.
Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
Seperti diberitakan sebelumnya, harga emas di pasar spot emas naik 1,5% menjadi US$3.529,01 per ounce pada Rabu (3/9/2025), setelah sempat menyentuh level tertinggi US$3.529,93. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS pengiriman Desember ditutup menguat 2,2% ke US$3.592,2. Adapun, sepanjang tahun ini, harga emas telah terapresiasi 34,5%.
“Pasar emas memasuki periode musiman yang kuat, ditambah ekspektasi pemangkasan suku bunga pada pertemuan Fed September. Kami terus memperkirakan rekor baru akan tercapai,” kata Suki Cooper, analis logam mulia di Standard Chartered Bank.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar menilai ada peluang hampir 92% The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada 17 September mendatang. Emas yang tidak memberikan imbal hasil biasanya diuntungkan dalam lingkungan suku bunga rendah.
Analis menilai reli emas tahun ini ditopang oleh pembelian bank sentral yang konsisten, diversifikasi dari dolar AS, tingginya permintaan aset lindung nilai di tengah gesekan geopolitik dan perdagangan, serta pelemahan dolar secara luas.
Ketidakpastian kebijakan di bawah Presiden Donald Trump juga menambah daya tarik emas. Perselisihan terbuka Trump dengan The Fed, termasuk kritik terhadap Ketua Jerome Powell dan upaya untuk mencopot Gubernur Lisa Cook, memicu kekhawatiran soal independensi bank sentral.
“Tuduhan terhadap Cook adalah peringatan jelas bagi anggota FOMC lain untuk tunduk pada tekanan pemerintah agar memangkas suku bunga lebih agresif… Lingkungan seperti ini membuat investasi emas semakin menarik,” tulis Commerzbank dalam catatan risetnya.
Fokus pasar kini tertuju pada data tenaga kerja nonpertanian AS (nonfarm payrolls/NFP) yang akan dirilis Jumat. Data yang lemah dapat memicu kembali spekulasi pemangkasan suku bunga hingga 50 basis poin, kata Zain Vawda, analis MarketPulse OANDA.
“Saya tidak yakin itu akan terjadi, meski NFP buruk. Namun, pasar bisa mulai memperhitungkan kemungkinan itu, yang dapat memicu reli emas lebih lanjut,” ujarnya.

