

Market Analysis
Demi Negosiasi Dagang, AS Tahan Sanksi Sekunder terhadap China

Bisnis.com, JAKARTA - Amerika Serikat menahan sanksi sekunder terhadap China karena negosiasi dagang dengan Beijing masih berlangsung. Sanksi tersebut dipertimbangkan menyusul dukungan China terhadap perang Rusia di Ukraina
“Presiden Trump belum memberlakukan tarif terhadap China karena negosiasi masih berjalan. Dan perang di Ukraina jelas menjadi bagian dari pembahasan itu,” ujar Duta Besar AS untuk NATO, Matthew Whitaker dikutip dari Bloomberg pada Rabu (3/9/2025)
Whitaker menilai sanksi terhadap China bisa efektif, meski mengingatkan risiko eskalasi. Dia menuturkan, terakhir kali Beijing dan Washington terlibat perang tarif, hal tersebut berujung pada bea masuk 145% di kedua pihak.
"Itu bukan cara menyelesaikan masalah perdagangan dengan China maupun perang Rusia-Ukraina,” tambahnya.
DIa menegaskan tarif AS terhadap India telah memengaruhi perhitungan negara itu dalam membeli energi Rusia, tetapi tidak serta-merta mempererat hubungan dagang dengan New Delhi.
Adapun terhadap China, Whitaker menekankan Presiden AS Donald Trump sadar memiliki alternatif tersebut dan bisa sewaktu-waktu memberlakukan tarif bila dianggap perlu. Bulan lalu, Trump memperpanjang gencatan dagang dengan China selama 90 hari, bersamaan dengan pembahasan kemungkinan pertemuan tingkat pemimpin.
Trump sebelumnya mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada pembeli minyak Rusia kecuali tercapai kesepakatan damai antara Kyiv dan Moskow. Namun sejauh ini, Gedung Putih baru mengenakan tarif terhadap India atas pembelian minyak mentah Rusia, sementara China belum tersentuh.
Komentar Whitaker menyoroti bagaimana upaya Trump mengoreksi defisit perdagangan AS justru membatasi ruang geraknya dalam mencari jalan keluar perang Ukraina yang memasuki tahun keempat.
Sementara itu, Prancis dan Jerman semakin mendesak penerapan sanksi sekunder karena frustrasi terhadap sikap Trump yang enggan secara terbuka menghadapi Presiden Rusia Vladimir Putin.
Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan menggelar pertemuan puncak dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Kamis (4/9/2025), bersama sejumlah sekutu utama Ukraina, sebagian hadir secara virtual. Belum jelas apakah Trump akan ikut serta.
Batas waktu terbaru dua pekan yang ditetapkan Trump untuk tercapainya kesepakatan damai kini hampir habis tanpa kemajuan berarti. Trump sempat mengklaim adanya perkembangan dalam pertemuannya dengan Putin di Alaska pada Agustus.
Namun, harapan itu segera pupus setelah Moskow menolak jaminan keamanan yang kuat bagi Ukraina dan tidak berkomitmen pada pertemuan dengan Zelensky.
