

Market Analysis
Proyeksi 10 Negara dengan Inflasi Tertinggi 2026, Apakah ada Indonesia?

Inflasi masih menjadi tantangan besar bagi banyak negara di dunia pada 2026, terutama terkait kenaikan harga pangan. Sejumlah negara diproyeksikan mengalami lonjakan inflasi yang sangat tinggi akibat tekanan ekonomi, konflik geopolitik, hingga ketergantungan impor pangan. Lalu, negara mana saja yang diperkirakan memiliki inflasi tertinggi tahun ini, dan apakah Indonesia termasuk di dalam daftar tersebut?
1. Iran – 55,9%
Iran diperkirakan menempati posisi pertama sebagai negara dengan inflasi tertinggi pada 2026 dengan proyeksi mencapai 55,9%. Lonjakan ini terutama dipicu oleh depresiasi mata uang, sanksi ekonomi internasional, serta tekanan ekonomi domestik yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah juga memperburuk kondisi ekonomi Iran. Ketegangan regional dan konflik geopolitik turut memicu kenaikan harga energi dan gangguan pasokan pangan, yang pada akhirnya berdampak pada inflasi domestik.
Selain itu, ketergantungan Iran pada impor bahan pangan tertentu membuat harga pangan sangat sensitif terhadap perubahan nilai tukar dan biaya transportasi global.
2. United Arab Emirates – 33,2%
Uni Emirat Arab diproyeksikan mengalami inflasi sebesar 33,2% pada 2026. Walaupun negara ini memiliki ekonomi yang relatif kuat, tekanan harga pangan global tetap berdampak pada pasar domestik.
Sebagian besar kebutuhan pangan di negara Teluk ini masih bergantung pada impor. Ketika harga pangan global meningkat atau terjadi gangguan logistik internasional, biaya impor akan meningkat dan berujung pada kenaikan harga di tingkat konsumen.
Namun, pemerintah Uni Emirat Arab memiliki kemampuan fiskal yang kuat untuk menstabilkan harga melalui subsidi dan kebijakan ekonomi lainnya.
3. Turkey – 25,1%
Turki telah menghadapi inflasi tinggi selama beberapa tahun terakhir. Pada 2026, inflasi pangan di negara ini diproyeksikan mencapai 25,1%.
Salah satu faktor utama adalah depresiasi mata uang lira Turki yang meningkatkan biaya impor bahan pangan dan energi. Selain itu, kebijakan moneter yang tidak konvensional dalam beberapa tahun terakhir juga turut memicu tekanan inflasi yang tinggi.
Turki juga menghadapi tantangan dari sisi produksi pertanian akibat perubahan iklim dan biaya produksi yang meningkat.
4. Haiti – 24,1%
Haiti merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap krisis ekonomi dan pangan. Inflasi sebesar 24,1% pada 2026 diperkirakan dipicu oleh ketidakstabilan politik, lemahnya infrastruktur, serta ketergantungan tinggi pada impor pangan.
Selain itu, kondisi keamanan yang tidak stabil juga mempersulit distribusi barang dan meningkatkan biaya logistik.
Akibatnya, harga kebutuhan pokok sering kali melonjak tajam dan membebani masyarakat berpenghasilan rendah.
Baca juga: Masih Bingung Forex Halal atau Haram? Ini Jawabannya
5. Malawi – 21,2%
Malawi diproyeksikan mengalami inflasi pangan sebesar 21,2% pada tahun 2026. Negara di Afrika Selatan ini menghadapi berbagai tantangan ekonomi seperti fluktuasi mata uang, keterbatasan produksi pangan, dan biaya impor yang tinggi.
Selain itu, sektor pertanian Malawi sangat bergantung pada kondisi cuaca. Ketika terjadi kekeringan atau gagal panen, produksi pangan menurun drastis dan memicu lonjakan harga di pasar domestik.
6. Nigeria – 17,1%
Nigeria diprediksi mengalami inflasi pangan sebesar 17,1% pada 2026. Walaupun merupakan salah satu negara penghasil minyak terbesar di Afrika, Nigeria masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi domestik.
Volatilitas nilai tukar mata uang, tingginya biaya transportasi, serta masalah keamanan di wilayah pertanian menjadi faktor yang mempengaruhi produksi dan distribusi pangan.
Selain itu, peningkatan harga energi global juga berdampak pada biaya produksi dan distribusi barang di negara tersebut.
7. Lebanon – 14,9%
Lebanon telah mengalami krisis ekonomi yang sangat serius dalam beberapa tahun terakhir. Nilai mata uang yang terus melemah dan sistem keuangan yang rapuh menyebabkan harga barang melonjak drastis.
Pada 2026, inflasi pangan di Lebanon diproyeksikan mencapai 14,9%. Kondisi ini diperburuk oleh ketergantungan tinggi terhadap impor pangan serta keterbatasan cadangan devisa untuk membayar impor tersebut.
Akibatnya, masyarakat Lebanon harus menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok yang signifikan.
8. Angola – 14,8%
Angola diperkirakan mengalami inflasi pangan sebesar 14,8%. Walaupun negara ini kaya sumber daya minyak, ekonomi domestiknya masih rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Depresiasi mata uang serta ketergantungan pada impor bahan pangan membuat harga makanan mudah terpengaruh oleh perubahan pasar global.
Selain itu, keterbatasan infrastruktur distribusi juga menjadi tantangan bagi stabilitas harga pangan di negara ini.
9. Kazakhstan – 12,7%
Kazakhstan diproyeksikan mengalami inflasi pangan sebesar 12,7% pada 2026. Sebagai negara yang berada di kawasan Eurasia, Kazakhstan sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi regional dan global.
Fluktuasi harga energi, gangguan rantai pasok, serta perubahan nilai tukar mata uang menjadi faktor utama yang mempengaruhi harga pangan di negara ini.
10. Zambia – 10,8%
Zambia menutup daftar 10 negara dengan inflasi tertinggi pada 2026 dengan proyeksi sebesar 10,8%. Negara ini menghadapi tantangan ekonomi seperti utang publik yang tinggi, depresiasi mata uang, dan ketergantungan pada impor pangan.
Selain itu, kenaikan biaya produksi pertanian dan energi juga turut mendorong kenaikan harga pangan di pasar domestik.
Mengapa Inflasi Pangan Bisa Sangat Tinggi?
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan inflasi pangan melonjak di banyak negara pada 2026, antara lain:
- Depresiasi Mata Uang: Ketika mata uang suatu negara melemah, harga impor pangan menjadi lebih mahal.
- Ketergantungan Impor Pangan: Negara yang tidak memiliki produksi pangan domestik yang cukup cenderung lebih rentan terhadap kenaikan harga global.
- Konflik Geopolitik: Ketegangan geopolitik dapat mengganggu jalur perdagangan dan distribusi komoditas pangan.
- Perubahan Iklim: Kekeringan, banjir, atau cuaca ekstrem dapat menurunkan produksi pertanian.
Apakah Indonesia Termasuk Negara dengan Inflasi Tinggi?
Kabar baiknya, Indonesia tidak termasuk dalam daftar 10 negara dengan inflasi tertinggi pada 2026. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas harga pangan di Indonesia relatif lebih terjaga dibandingkan beberapa negara lain.
Beberapa faktor yang membantu menjaga stabilitas inflasi di Indonesia antara lain:
- Kebijakan pengendalian inflasi oleh pemerintah dan bank sentral
- Program stabilisasi harga pangan
- Produksi pangan domestik yang cukup kuat
- Diversifikasi sumber impor pangan
Dengan berbagai kebijakan tersebut, inflasi Indonesia masih berada dalam kisaran yang relatif terkendali dibandingkan negara-negara yang mengalami krisis inflasi.
Mulailah trading sekarang di Dupoin #All-in-One Trading App Download aplikasinya untuk mendapatkan update terbaru seputar dunia trading dan investasi. Dan jangan lupa untuk selalu membagikan konten ini ke sesama trader lainnya. Semoga bermanfaat!


