

Market Analysis
Sinyal 'Dovish' Pejabat The Fed Bisa Bantu Rupiah Kian Perkasa

Bloomberg Technoz, Jakarta -Rupiah berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan hari ini ketika Badan Pusat Statistik dijadwalkan akan mengumumkan kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2025.
Peluang penguatan masih disokong oleh berlanjutnya pelemahan dolar Amerika (DXY) yang kemarin ditutup melemah 0,36% di bursa New York, masih tertekan oleh ekspektasi penurunan bunga acuan Federal Reserve (The Fed) yang kian kuat menyusul pernyataan dovish dari Gubernur The Fed San Francisco Mary Daly.
Berlanjutnya pelemahan DXY adalah kabar baik bagi mata uang yang jadi lawannya, tak terkecuali rupiah dan mata uang Asia lain. Di pasar regional pagi ini, Selasa (5/8/2025), reli penguatan valuta Asia berlanjut dipimpin oleh baht, diikuti oleh yen, ringgit, won, yuan offshore, dolar Singapura serta dolar Hong Kong.
Di pasar offshore Nondeliverable Forward (NDF), rupiah diperdagangkan di kisaran Rp16.381/US$ setelah kemarin ditutup menguat di bursa New York.
Level tersebut lebih kuat dibanding posisi penutupan rupiah spot kemarin di Rp16.390/US$. Hal itu mengisyaratkan penguatan rupiah di pasar spot lebih mungkin terjadi meski data pertumbuhan ekonomi kuartal II yang akan diumumkan oleh BPS nanti diperkirakan akan mempertegas terjadinya perlambatan ekonomi domestik.
Rupiah bersama mata uang Asia banyak diuntungkan oleh sentimen penurunan suku bunga The Fed yang makin menguat pasca data tenaga kerja AS nan lemah.
Kini, sentimen bertambah kian dovish menyusul pernyataan Daly yang mengatakan sudah dekat waktunya bagi otoritas moneter AS itu untuk menurunkan suku bunga acuan, melihat kondisi pasar tenaga kerja yang kian melemah, seperti dilaporkan oleh Reuters.
Selain itu, tidak ada pula tanda-tanda bahwa inflasi merayap naik karena kebijakan tarif Presiden Donald Trump.
"Saya bersedia menunggu siklus berikutnya, tapi saya tidak bisa menunggu selamanya," kata Daly ketika ditanya tentang keputusan The Fed pekan lalu.
Dua kali pemotongan suku bunga sebanyak 25 basis poin untuk tahun ini seperti yang terungkap dalam dot plot pertemuan Juni lalu, menurut Daly, tampaknya masih merupakan jumlah yang tepat.
"Tentu kami bisa melakukan kurang dari dua kali pemotongan jika inflasi meningkat dan meluas atau jika pasar tenaga kerja pulih. Saya pikir kemungkinan besar kita harus melakukan lebih dari dua kali menurut saya, kita juga harus siap melakukan lebih banyak lagi jika pasar tenaga kerja terlihat memasuki periode pelemahan dan kita masih belum melihat dampaknya terhadap inflasi," jelas Daly.
Di pasar swap, para traders menaikkan taruhan penurunan Fed fund rate pada pertemuan September dengan probabilitas mencapai 94,4%. Sedangkan untuk pertemuan The Fed pada bulan Oktober serta Desember, peluang penurunan bunga acuan mencapai masing-masing 67,6% dan 56,7%. Probabilitas itu meningkat dari sebesar 30,7% dan 20,2% pada pekan lalu.
Reli surat utang
Ekspektasi penurunan bunga acuan yang meningkat tajam akibat data mengejutkan pasar tenaga kerja AS, ditambah pernyataan sangat dovish dari Daly, memperpanjang reli harga surat utang AS, US Treasury.
Pagi ini, yield UST turun di semua tenor di mana yield UST-2Y kini menyentuh 3,665%. Sedangkan tenor 5Y dan 10Y masing-masing makin turun di 3,728% dan 4,183%.
Perkembangan pasar global yang menaikkan taruhan besar pada penurunan bunga acuan, memicu reli serupa di pasar domestik. Kemarin, semua tenor Surat Utang Negara (SUN) terpangkas imbal hasilnya, mencerminkan kenaikan harga.
Melansir data Bloomberg, pada sesi sore perdagangan hari Senin kemarin, penurunan terbesar dicatat oleh tenor 5Y dan 10Y, sebesar 8,1 bps dan 7,6 bps. Yield masing-masing tenor itu kini berada di 6,081% dan 6,483%. Sedangkan tenor 2Y, yield-nya turun 4,8 bps kini di 5,724%.
Reli harga SUN kemungkinan akan berlanjut hari ini terutama bila data pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang diumumkan siang nanti lebih buruk ketimbang perkiraan pasar.
Kondisi ekonomi domestik yang kian lemah akan memberi dorongan lebih besar bagi Bank Indonesia untuk melanjutkan lebih agresif pemangkasan suku bunga acuan, terlebih dengan lanskap global yang juga cenderung dovish.
Bunga acuan yang turun menjadi sentimen bagus bagi harga surat utang sehingga dana investor berpeluang menyasar aset pendapatan tetap yang dinilai lebih stabil.
Melansir data Kementerian Keuangan per 1 Agustus, investor asing mencatat pembelian bersih surat utang RI senilai US$ 164,2 juta, sekitar Rp2,7 triliun sehingga menambah nilai pembelian selama kuartal III-2025 menjadi sebesar US$ 1,16 miliar, setara Rp19,01 triliun.
Alhasil, sepanjang tahun ini, pemodal asing mencetak posisi net buy surat utang terbitan Pemerintah RI sebesar US$ 3,70 miliar, sekitar Rp60,64 triliun.
Aliran modal asing ke surat utang RI, berkebalikan dengan tekanan jual yang di pasar saham. Pada perdagangan kemarin, Senin (4/8/2025), asing kembali melepas posisi di saham domestik senilai US$ 62,1 juta, sekitar Rp1,01 triliun.
Sehingga selama kuartal III saja, asing masih net sell Rp9,47 triliun dan sepanjang tahun ini membukukan penjualan bersih di ekuitas domestik sebesar US$ 3,81 miliar. Dengan kurs saat ini, nilai itu setara Rp62,44 triliun.
