

Market Analysis
Rupiah Terburuk Sejak Mei, Surat Utang RI Ramai Diobral

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah ditutup melemah pada perdagangan di pasar spot, akibat terjangan keperkasaan dolar Amerika yang melibas hampir semua mata uang yang jadi lawannya.
Rupiah spot ditutup melemah 0,34% di level Rp16.398/US$. Pelemahan rupiah jadi yang terburuk kedua di Asia hari ini, Rabu (30/7/2025). Rupiah sempat terperosok di level Rp16.408/US$ sebelum akhirnya ditutup sedikit naik nilainya.
Level penutupan rupiah hari ini di pasar spot menjadi yang terburuk sejak terakhir kali terjadi di level tersebut pada 20 Mei lalu.
Rupiah hanya lebih baik dibanding dolar Taiwan yang tergerus hingga 0,61%. Sedangkan peso turun 0,27%, won 0,2%, rupee 0,19% kemudian baht juga melemah 0,14%.
Dolar Singapura melorot 0,09%, ringgit 0,07% dan yen juga melemah 0,03%. Hanya yuan Tiongkok (CNY) dan yuan offshore (CNH) serta dolar Hong Kong yang masih menguat tipis.
Pelemahan rupiah pada akhirnya mempengaruhi pula arus jual yang makin besar di pasar Surat Utang Negara (SUN).
Yield SUN mayoritas naik terutam tenor 3 tahun yang naik 4,3 basis poin (bps) di level 5,848%, disusul tenor 2Y yang juga naik 3,5 bps di 5,711%.
Sementara tenor 10Y naik 2,3 bps, bersama tenor 9Y yang naik sampai 3,5 bps seprti ditunjukkan oleh data OTC Bloomberg, petang ini.
Tekanan yang dihadapi oleh rupiah beserta mata uang Asia hari ini berlangsung akibat lonjakan DXY, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, hingga lebih dari 1% kemarin.
Penguatan DXY berlanjut sampai sore ini di mana posisinya makin menguat di level 98,79.
Dolar yang kembali perkasa di'panas'kan oleh kepastian yang relatif lebih terang terkait kesepakatan dagang AS dengan negara-negara seperti Uni Eropa dan Jepang. Sementara dengan China, peluang perpanjangan gencatan tarif juga memberi optimisme pasar.
Data AS yang akan dirilis juga membuat pasar cenderung beralih memburuk the greenback, menjauhi aset-aset yang lebih berisiko.

