English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Bursa Asia Bervariasi: IHSG dan Hang Seng Menguat, TOPIX Lesu

Bloomberg Technoz · 156K Views

Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat pada perdagangan hari ini. Bursa Asia lainnya masih bergerak variatif (mixed) dengan kecenderungan melemah.

Pada akhir penutupan perdagangan Senin (28/7/2025) IHSG menempati posisi 7.614,76 dengan keberhasilan menguat 0,94% dan 71,26 poin dari posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Penutupan IHSG Sesi II pada Senin 28 Juli 2025 (Bloomberg)

IHSG sempat menyentuh level tertinggi 7.669,44. Adapun level terendah pada level 7.614,76 yang sempat terjadi pada pembukaan perdagangan pagi hari tadi.

Total transaksi hari ini mencapai Rp16,97 triliun, dari sejumlah 28,82 miliar saham yang ditransaksikan sepanjang perdagangan. Dengan frekuensi yang terjadi 1,6 juta kali diperjualbelikan.

Sebanyak 363 saham mengalami penguatan, dan ada 244 saham melemah. Sedangkan 199 saham lainnya tidak bergerak alias stagnan.

Saham–saham infrastruktur, saham barang baku, dan saham energi menjadi pendorong penguatan IHSG dengan menguat mencapai 2,61%, 2,25% dan 1,36%.

Saham-saham yang menguat dan menjadi top gainers di antaranya saham PT Ateliers Mecaniques D'IndonesieTbk (AMIN) yang melesat 34,62%, saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) melejit 34,59%, dan saham PT Xolare Rcr Energy Tbk (SOLA) terbang 34,51%.

Saham-saham yang melemah dan menjadi top losers antara lain saham PT Fuji Finance Indonesia Tbk (FUJI) yang jatuh 14,92%, saham PT Kian Santang Muliatama Tbk (RGAS) ambruk 12,2%, dan saham PT Merry Riana Edukasi Tbk (MERI) ambles 10,8%.

Bursa Saham Asia lain yang turut menguat seperti IHSG, Ho Chi Minh Stock Index (Vietnam), Hang Seng (Hong Kong), Shenzhen Comp. (China), KOSPI (Korea Selatan), CSI 300 (China), TW Weighted Index (Taiwan), dan Shanghai Composite (China) yang berhasil menguat masing-masing mencapai 1,72%, 0,68%, 0,50%, 0,42%, 0,21%, 0,21%, dan 0,12%.

Di sisi berseberangan, NIKKEI 225 (Tokyo), TOPIX (Jepang), SENSEX (India), PSEI (Filipina), Straits Times (Singapura), dan KLCI (Malaysia) yang tertekan dan drop dengan masing-masing 1,10%, 0,72%, 0,70%, 0,52%, 0,47%, dan 0,29%.

Kenaikan Bursa Saham Asia dan IHSG sejalan dengan momentum penguatan di Wall Street Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan sebelumnya, tiga indeks utama di Wall Street kompak ditutup di zona hijau. Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite, masing-masing melesat dengan dengan kenaikan 0,47%, 0,40%, dan 0,24%.

Sentimen yang memengaruhi IHSG dan Bursa Asia hari ini adalah datang dari kabar terbaru negosiasi tarif dagang AS dengan sejumlah mitra jadi perhatian pasar. Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Uni Eropa mencapai kesepakatan dengan Presiden Donald Trump yang akan menerapkan tarif 15% atas sebagian besar ekspor blok tersebut, menghindari perang dagang yang berpotensi merugikan.

Trump dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengumumkan kesepakatan Uni Eropa pada Minggu di golfnya di Turnberry, Skotlandia. “Ini adalah kesepakatan terbesar dari semua kesepakatan,” kata Trump, sementara von der Leyen menambahkan kesepakatan ini akan membawa stabilitas dan kejelasan.

Tujuan utamanya, kata Trump, adalah meningkatkan produksi di AS dan memperluas akses bagi eksportir AS ke pasar Eropa. Von der Leyen mengakui salah satu dorongan di balik negosiasi tersebut adalah penataan ulang perdagangan, tetapi ia menganggapnya menguntungkan kedua belah pihak.

Pakta tersebut disepakati kurang dari seminggu sebelum batas tarif tinggi pada Jumat 1 Agustus oleh Presiden AS Donald Trump dan langsung dipuji oleh beberapa pemimpin Eropa, termasuk Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, yang menyebutnya berkelanjutan.

Sementara itu, AS dan China diprediksi akan memperpanjang gencatan senjata tarif mereka selama tiga bulan lagi, menurut laporan South China Morning Post, yang mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya. Laporan ini muncul menjelang perundingan dagang antara Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di Stockholm hari ini, Senin.