

Market Analysis
IHSG Sempat Sentuh Level 7.400 di Sesi Pertama, Investor Perlu Waspada Hal Ini

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini sempat mencapai level 7.400 pada pertengahan sesi pertama, Jumat (18/7/2025).
IHSG pada sesi pertama hari ini ditutup pada level 7.379,26 atau naik 92,24 poin setara 1,27 persen dibandingkan pembukaannya.
Sebanyak 303 saham melaju di zona hijau dan 259 saham di zona merah. Sedangkan 233 saham lainnya stagnan. Adapun nilai transaksi hingga saat ini mencapai Rp 7,75 triliun dengan volume 11,84 miliar saham.
Pada sesi pertama ini, IHSG sempat mencapai titik tertinggi di level 7.401,57.
Direktur Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, secara tren IHSG justru menguat setelah penurunan suku bunga acuan BI Rate.
Namun demikian, dengan semakin menipisnya jarak antara tingkat suku bunga The Fed dan Bank Indonesia, jumlah modal asing keluar (capital outflow) juga berpotensi besar untuk terjadi. "Karena daya tarik yang terus berkurang bagi investor asing untuk dapat masuk," ujar dia dalam keterangan resmi, Jumat (18/7/2025).
Menurut dia, hal tersebut merupakan risiko yang harus kita terima, tatkala tingkat suku bunga diturunkan, sementara The Fed belum menurunkan.
Namun ia juga berharap dampak positifnya jauh lebih banyak daripada dampak negatifnya. "Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi menguat terbatas dengan support dan resistance 7.220–7.470," ungkap dia.
Rupiah
Di sisi lain, nilai tukar rupiah kembali melemah dan menjadi salah satu yang terburuk di Asia.
Pada Kamis (17/7/2025), rupiah ditutup turun 0,32 persen ke level Rp 16.331 per dollar AS, dan telah melemah 0,73 persen selama sepekan.
Nico menjelaskan, meski Bank Indonesia (BI) sudah melakukan intervensi di pasar spot valas, obligasi domestik, dan NDF offshore, tekanan global masih dominan.
Pelemahan rupiah terjadi seiring pelemahan mata uang Asia lainnya, dipimpin oleh peso, dengan rupiah sebagai terlemah kedua.
Di sisi lain, dollar AS masih menguat, didorong oleh kekhawatiran pasar terkait isu penggantian Gubernur The Fed Jerome Powell oleh Presiden Trump, yang menimbulkan kekhawatiran atas independensi The Fed.
Hal itu turut mendorong naiknya imbal hasil atau yield US Treasury, mempersempit selisih dengan surat utang Indonesia, dan memicu tekanan jual di pasar obligasi domestik.
Yield SUN berbagai tenor naik, terutama tenor 8 tahun yang naik 3,7 basis poin (bps).
Berdasarkan pantauan Kompas.com, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS siang ini menguat pada pukul 12.52 WIB di pasar spot ke level 16.309 per dollar AS atau menguat 31,5 poin setara dengan 0,19 persen.
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.
