English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Bursa Saham Asia Bersiap Menguat di Tengah Drama Baru Tarif AS

Bloomberg · 141.2K Views

Bloomberg, Bursa saham Asia diprediksi dibuka menguat seiring investor mengabaikan ancaman tarif baru dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang dinilai hanya sebagai taktik negosiasi dan kecil kemungkinan mengganggu arus perdagangan global.

Harga berjangka di Tokyo, Hong Kong, dan Sydney mengindikasikan pembukaan yang positif pada awal perdagangan Asia. Indeks S&P 500 mencatat kenaikan tipis setelah Trump menyatakan dirinya terbuka untuk melanjutkan pembicaraan dagang, meskipun tetap bersikeras bahwa tarif baru yang ia tetapkan adalah “bagian dari kesepakatan.” Harga minyak turun karena rencana Trump menekan Rusia untuk menghentikan perang di Ukraina tidak menyertakan kebijakan baru yang menyasar ekspor energi Moskow.

Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 100% terhadap Rusia jika negara tersebut tidak menghentikan agresi militernya. Sebelumnya, pada akhir pekan lalu, ia mengumumkan tarif 30% terhadap Meksiko dan Uni Eropa, serta memberitahu sejumlah mitra dagang utama bahwa tarif baru akan berlaku mulai 1 Agustus jika kesepakatan baru tidak tercapai.

“Kami melihat langkah terbaru dari Gedung Putih ini sebagai strategi negosiasi, dan tetap berpegang pada asumsi dasar bahwa tarif efektif AS akan berada di kisaran 15%. Dengan level ini, kami memperkirakan S&P 500 masih dapat melanjutkan penguatan dalam 12 bulan ke depan,” kata Mark Haefele dari UBS Global Wealth Management.

Di Asia, perhatian tertuju pada rilis data kuartal kedua dari Beijing yang diperkirakan menunjukkan pertumbuhan ekonomi China sedikit di atas target tahunan pemerintah sebesar 5%. Hal ini dinilai akan mengurangi tekanan bagi pemerintah untuk menggelontorkan stimulus tambahan dalam waktu dekat.

Data ini muncul sehari setelah laporan neraca dagang China menunjukkan surplus rekor sebesar US$586 miliar untuk paruh pertama tahun ini, di tengah stabilisasi ekspor ke AS. Industri manufaktur China dinilai berhasil melewati guncangan tarif yang sempat mengguncang perdagangan global.

Namun, sektor properti masih menghadapi tekanan. Pada Senin (14/7/2025), perusahaan pengembang China Vanke Co mengumumkan potensi kerugian hingga US$1,67 miliar untuk semester pertama 2025.

IHK dan Musim Laporan Keuangan
Di AS, pelaku pasar bersiap menghadapi laporan keuangan dari sektor perbankan besar serta data inflasi. Meskipun banyak perusahaan memproyeksikan musim laporan keuangan terlemah sejak pertengahan 2023, ekspektasi yang rendah justru bisa membuka peluang pencapaian di atas target. Musim laporan keuangan akan dimulai Selasa (15/7) ini, dan sejumlah analis percaya ekspektasi yang moderat dapat memperpanjang reli pasar saham.

Sementara itu, imbal hasil obligasi AS mencatat penurunan tipis menjelang rilis indeks harga konsumen (IHK). Setelah beberapa bulan inflasi relatif stabil, IHK diperkirakan mencatat percepatan ringan pada Juni akibat kenaikan biaya impor imbas dari tarif baru.

Menurut Citigroup Inc, pasar opsi memperkirakan indeks S&P 500 akan bergerak 0,6% ke salah satu arah setelah rilis IHK hari Selasa, sejalan dengan pergerakan yang diantisipasi dua bulan terakhir, meskipun masih di bawah rata-rata pergerakan aktual 0,9% selama setahun terakhir.

“Reaksi pasar saham yang tenang terhadap rangkaian berita tarif terbaru menunjukkan bahwa investor mungkin mulai kebal atau menilai bahwa ancamannya lebih besar daripada dampaknya,” ujar Chris Larkin dari E*Trade milik Morgan Stanley.

Menurut Emily Bowersock Hill dari Bowersock Capital Partners, para investor tampaknya sudah terbiasa dengan drama tarif, bahkan cenderung abai, sehingga membuat valuasi S&P 500 menjadi terlalu tinggi.

“Selama tidak ada kejutan negatif, kami memperkirakan kondisi ini akan terus berlanjut, terutama karena tren pasar saham saat ini sedang menguat,” ujar Hill.