English
English
繁體中文
Tiếng Việt
ภาษาไทย
日本語
한국어
Bahasa Indonesia
Español
Português
Русский язык
اللغة العربية
zu-ZA
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

10 Tips Beli Saham Murah untuk Investor Pemula

Kompas · 28.6K Views

JAKARTA, KOMPAS.com - Memulai investasi saham bisa menjadi langkah cerdas untuk membangun kekayaan jangka panjang, terutama bagi generasi muda dan pemula yang ingin memaksimalkan potensi keuangan.

Namun, dengan banyaknya pilihan saham di bursa, tak sedikit investor pemula yang merasa bingung dalam menentukan saham mana yang layak dibeli.

Salah satu strategi yang menarik perhatian adalah mencari saham murah, atau yang dikenal dengan istilah undervalued stock, yang berpotensi memberikan keuntungan besar di masa depan.

1. Ketahui arti “murah”

Saham berharga rendah (misalnya kurang dari Rp 1.000) mungkin tampak murah, tapi bisa saja menandakan fundamental lemah, seperti kerugian berulang, utang tinggi, atau prospek memburuk.

Sebaliknya, saham undervalued ditandai oleh rasio valuasi rendah, seperti PBV kurang dari 1 atau PER kurang dari?15, dengan fundamental sehat.

2. Analisis valuasi dan fundamental

Gunakan rasio keuangan sebagai berikut sebagai panduan Anda.

  • Price to Book Value (PBV): Idealnya kurang dari?1.
  • Price to Earnings Ratio (PER): Dibandingkan rata-rata industri.
  • ROE dan DER: Untuk menilai profitabilitas dan kesehatan utang usaha.

Pastikan laba bersih berasal dari operasional, bukan hasil penjualan aset atau akuntansi non-operasional.

Perhatikan tren valuasi historis. Jika suatu saham selalu dipandang “murah”, artinya pasar tidak menghargainya. Cari alasan di baliknya.

3. Pilih bisnis yang mudah dipahami dan sektor familiar

Sebaiknya, investasi di perusahaan dengan model bisnis yang Anda kenal, seperti bank, FMCG, teknologi dasar, atau ritel.  Fokus pada sektor prospektif. Seperti, konsumsi, keuangan, teknologi, yang stabil dan terus berkembang.

4. Mulai dari saham blue chip atau second-liner

Untuk pemula, saham dengan fundamental solid dan likuiditas tinggi, seperti dalam indeks LQ45 atau IDX30, lebih aman dan mudah dipantau. Alternatifnya adalah saham second-liner dengan harga lebih terjangkau tapi tetap memiliki likuiditas dan rasio baik.

5. Gunakan strategi Dollar-Cost Averaging (DCA)

Beli secara rutin jumlah tetap (misalnya setiap bulan) untuk meratakan harga pembelian dan meminimalkan risiko volatilitas. 

6. Diversifikasi portofolio

Alokasikan dana ke beberapa saham lintas sektor untuk mengurangi risiko jika salah satu sektor mengalami koreksi. Idealnya diversifikasi di 3 sampai 5 saham, termasuk saham blue chip dan second-liner.

7. Perhatikan dividen dan likuiditas

Saham yang rutin membayar dividen menunjukkan arus kas stabil dan bisa menjadi sumber pendapatan pasif tambahan. Likuiditas juga penting. Pilih saham yang sering diperdagangkan (volumenya tinggi), sehingga mudah dibeli maupun dijual.

8. Kendalikan emosi dan gunakan uang dingin

Gunakan “uang dingin” alias dana yang tidak diperlukan untuk biaya hidup atau utang. Hindari menggunakan pinjaman untuk berinvestasi. Miliki rencana masuk (entry), keluar (exit), dan batas kerugian (cut-loss). Tinggalkan keputusan emosional seperti FOMO atau panic selling. 

9. Waspadai saham gorengan

Saham yang harganya melonjak tiba-tiba bisa diatur oleh “bandar”. Hindari terburu-buru beli hanya karena viral. Perhatikan peringatan seperti Auto Reject Atas/Suspensi dari BEI sebagai sinyal ada aktivitas tidak wajar.

10. Belajar terus dan ikuti berita pasar

Cek laporan keuangan di situs BEI dan gunakan tools yang ada di platform investasi. Ikuti berita makro, seperti suku bunga dan kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi harga saham.

Membeli saham murah bukan hanya soal harga per lembar, tapi soal nilai riil perusahaan. Untuk investor pemula, metode terbaik mencakup valuasi yang tepat, analisis fundamental, penggunaan strategi DCA, diversifikasi, dan manajemen risiko secara disiplin

Dengan pendekatan ini, investasi saham bisa memberi hasil yang baik dan aman untuk jangka panjang.