

Market Analysis
Bursa Asia Bersiap Menguat Didukung Data Tenaga Kerja AS

Bloomberg, Bursa saham Asia diperkirakan menguat pada Jumat (4/7/2025), mengikuti rekor tertinggi baru di bursa saham Amerika Serikat (AS) setelah data ketenagakerjaan yang kuat meredakan kekhawatiran perlambatan ekonomi.
Kontrak berjangka indeks saham Jepang dan Australia terpantau naik, sementara kontrak berjangka untuk Hong Kong sedikit melemah. Pada Kamis (3/7/2025), indeks S&P 500 menguat 0,8% dan Nasdaq 100 naik 1%, keduanya mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa dalam sesi perdagangan yang lebih singkat menjelang libur Hari Kemerdekaan AS. Kontrak berjangka untuk saham AS nyaris tidak berubah pada awal perdagangan Asia.
Pasar AS ditutup sebelum DPR mengesahkan rancangan undang-undang pajak Presiden Donald Trump yang mencakup pemangkasan pajak senilai sekitar US$4,5 triliun. Kebijakan ini sebelumnya sempat memicu kekhawatiran terkait lonjakan defisit anggaran.
Imbal hasil obligasi AS turun sementara dolar menguat, mencerminkan pandangan pelaku pasar bahwa tekanan terhadap bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga berkurang setelah pertumbuhan lapangan kerja pada Juni melampaui ekspektasi. Pelaku pasar swap kini hampir tidak melihat peluang pemangkasan suku bunga pada Juli, dibandingkan dengan kemungkinan sekitar 25% sebelum data tersebut dirilis. Peluang penurunan suku bunga pada September juga menurun menjadi sekitar 70%.

“Laporan ketenagakerjaan yang solid pada Juni mengonfirmasi bahwa pasar tenaga kerja masih tangguh dan menutup peluang pemangkasan suku bunga pada Juli,” kata Jeff Schulze dari ClearBridge Investments. “Spiral inflasi upah-harga sepertinya tidak menjadi kekhawatiran dalam waktu dekat, menciptakan skenario yang mirip dengan ‘Goldilocks’.”
Sementara itu, para pelaku pasar tetap waspada setelah Trump menyatakan pemerintahannya dapat mulai mengirimkan surat kepada mitra dagang pada Jumat untuk menetapkan tarif secara sepihak menjelang tenggat negosiasi 9 Juli.
Saat ditanya pada Kamis apakah akan ada kesepakatan dagang baru, Trump menjawab, “Kami punya beberapa kesepakatan lain, tapi Anda tahu, kecenderungan saya adalah mengirimkan surat dan menyebutkan tarif yang harus mereka bayar.”
Di Asia, bank sentral de facto Hong Kong kembali membeli dolar Hong Kong untuk mempertahankan patokan nilai tukarnya. Nilai tukar dolar Hong Kong sempat mengalami gejolak, dengan dua intervensi sebelumnya gagal menaikkan biaya pendanaan cukup tinggi untuk menahan spekulasi penurunan nilai.
Sementara itu, data yang akan dirilis di kawasan ini termasuk inflasi Filipina, belanja rumah tangga Australia, dan penjualan ritel Singapura.
Prospek Suku Bunga
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, pada Kamis mengkritik pandangan pejabat Fed terkait suku bunga dan kembali menegaskan bahwa imbal hasil obligasi dua tahun menunjukkan suku bunga acuan The Fed terlalu tinggi.
“Komite tampaknya agak keliru dalam penilaiannya,” ujar Bessent dalam wawancara dengan Fox Business, merujuk pada Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang menetapkan suku bunga.
Angka utama dalam laporan ketenagakerjaan Juni memang mengurangi tekanan bagi The Fed untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga bulan ini, tetapi data tersebut menutupi kelemahan pada sektor ketenagakerjaan swasta dan tanda-tanda potensi penurunan pasar tenaga kerja. Tren ini bisa meningkatkan risiko di akhir tahun.
“Meskipun laporan hari ini menunjukkan penciptaan lapangan kerja yang masih kuat, kami menilai detail laporan ini tidak sepositif yang ditunjukkan angka utamanya,” kata Oscar Munoz dan Gennadiy Goldberg dari TD Securities. “Cerita tentang pasar tenaga kerja yang lesu dan perekrutan rendah masih berlaku untuk saat ini.”
Di pasar komoditas, harga emas turun pada Kamis, sementara harga minyak juga terkoreksi setelah laporan media menyebut OPEC+ mulai membahas kemungkinan kenaikan produksi lagi.

