English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Data Ketenagakerjaan AS Topang Dollar, Bursa Global Ikut Menguat, Sinyal The Fed Belum Longgarkan Suku Bunga?

Kompas · 128K Views

NEW YORK, KOMPAS.com – Pasar saham global kembali mencetak rekor, sementara dollar AS menguat setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan kekuatan yang mengejutkan. Kondisi ini memupus ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, nonfarm payrolls bertambah 147.000 pada Juni 2025, naik dari revisi 144.000 pada Mei. Angka ini jauh melampaui proyeksi para ekonom sebesar 110.000 pekerjaan.

"Pemangkasan suku bunga bulan Juli jelas tidak mungkin. Saya juga terkejut melihat angkanya sekuat ini," ujar Sandy Villere, Manajer Portofolio Villere & Co, New Orleans, dikutip dari Reuters. "Saya tak akan menyebut ini kondisi sempurna, tapi jelas ini luar biasa dengan semua dinamika global dari tarif hingga DOGE."

Imbas laporan ini, pelaku pasar mengurangi proyeksi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Probabilitas pemangkasan pada September turun dari hampir 98 persen menjadi sekitar 75 persen, menurut data LSEG.

Sementara itu, indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatatkan penutupan tertinggi sepanjang masa, didorong saham teknologi, termasuk Nvidia yang naik 1,3 persen mendekati kapitalisasi pasar 4 triliun dollar AS atau sekitar Rp 66.000 triliun.

Dow Jones Industrial Average naik 344,11 poin atau 0,77 persen ke 44.828,53. Indeks S&P 500 menguat 0,83 persen ke 6.279,35 dan Nasdaq melonjak 1,02 persen ke 20.601,10. Sepanjang pekan ini, S&P 500 naik 1,72 persen, Nasdaq 1,62 persen, dan Dow Jones 2,3 persen.

Secara global, indeks MSCI World naik 0,65 persen ke 926,47 setelah sempat menyentuh rekor 926,79. Sementara indeks STOXX 600 Eropa menguat 0,47 persen, didukung saham perbankan.

Kinerja pasar saham yang kuat juga berdampak pada penguatan dollar AS. Indeks dollar naik 0,38 persen ke 97,12, sementara euro melemah 0,37 persen ke posisi 1,1754 dollar AS atau sekitar Rp 19.398. Terhadap yen Jepang, dollar AS naik 0,95 persen ke 145,03.

Bank of Japan menyiratkan kemungkinan kembali menaikkan suku bunga setelah jeda sementara. "Bank sentral seharusnya melanjutkan normalisasi kebijakan suku bunga, dengan evaluasi dampak dari tarif AS," kata anggota dewan Bank of Japan, Hajime Takata, dikutip dari Reuters. 

Pound sterling sedikit menguat 0,07 persen ke 1,3645 dollar AS (sekitar Rp 22.515), setelah sehari sebelumnya tertekan akibat ketidakpastian fiskal Inggris dan masa depan Menteri Keuangan Rachel Reeves.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang AS tenor 10 tahun naik 5,3 basis poin menjadi 4,346 persen. Yield obligasi tenor 2 tahun naik 9,7 basis poin ke 3,886 persen, mencerminkan ekspektasi suku bunga jangka pendek yang lebih tinggi.

Di sisi lain, harga minyak melemah. Minyak mentah AS turun 0,65 persen ke 67,01 dollar AS per barel (sekitar Rp 1.105.665), dan Brent turun 0,46 persen ke 68,79 dollar AS per barel (sekitar Rp 1.135.035).

Dengan data ekonomi yang semakin kuat, investor kini harus bersiap menghadapi kondisi suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.