English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Bursa Saham Asia Waspada Jelang Data Ketenagakerjaan AS

Bloomberg · 76.2K Views

Bloomberg, Bursa saham Asia diperkirakan akan dibuka hati-hati seiring para investor menunggu data ketenagakerjaan AS, setelah indeks saham utama mencetak rekor baru usai pengumuman kesepakatan dagang antara Donald Trump dan Vietnam.

Indeks global MSCI mencatat rekor tertinggi baru setelah S&P 500 naik 0,5% ke level tertinggi sepanjang masa pada Kamis (3/7/2025). Nasdaq 100 juga menguat 0,7% seiring sektor teknologi yang tampil lebih baik. Berita kesepakatan dagang tersebut mendukung saham-saham sektor pakaian seperti Nike Inc, karena muncul harapan bahwa perjanjian itu akan mencegah krisis rantai pasokan. Sementara itu, kontrak berjangka saham Asia tercatat nyaris tak bergerak. Saham Tesla Inc melonjak 5% karena penurunan penjualan perusahaan dianggap tidak separah yang dikhawatirkan.

Imbal hasil obligasi AS turun pada Rabu setelah aksi jual besar-besaran di Inggris, dipicu kekhawatiran soal posisi fiskal negara itu menyusul spekulasi terkait masa depan Menteri Keuangan Rachel Reeves. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik empat basis poin, sedangkan imbal hasil obligasi Inggris tenor 10 tahun melonjak 16 basis poin. Harga emas naik, minyak menguat sekitar 3%, dan dolar AS nyaris tak berubah.

Pergerakan lintas aset ini mencerminkan optimisme hati-hati, karena pelaku pasar masih menghadapi ketidakpastian menjelang data ketenagakerjaan AS yang akan menjadi petunjuk arah suku bunga. Seperti di Inggris, investor di AS juga mulai cemas seiring tertundanya pembahasan undang-undang ekonomi andalan Trump di DPR AS akibat penolakan dari kubu konservatif fiskal Partai Republik.

“Investor sudah mulai memasukkan One Big Beautiful Bill ke dalam ekspektasi mereka, setidaknya dalam bentuk tertentu,” kata Zachary Griffiths, kepala strategi makroekonomi dan obligasi investment-grade di CreditSights, kepada Bloomberg TV. “Kami akan melihat pasokan surat utang dari AS bertambah, dan ada kekhawatiran soal kondisi fiskal di seluruh dunia, termasuk di Inggris.”

Mengenai kesepakatan dagang dengan Vietnam, Trump mengatakan bahwa kesepakatan tercapai setelah negosiasi selama berminggu-minggu. AS akan mengenakan tarif 20% pada ekspor Vietnam, dan tarif 40% pada barang yang dianggap sebagai hasil transshipment. Trump menyebut Vietnam sepakat untuk menghapus seluruh tarif atas produk asal AS.

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan Rachel Reeves tetap menjabat sebagai Menteri Keuangan, untuk meredam spekulasi yang memicu aksi jual surat utang negara tersebut.

Di AS, data nonfarm payroll yang dirilis lebih awal pada Kamis (karena libur nasional) diperkirakan menunjukkan melambatnya perekrutan dan tingkat pengangguran tertinggi sejak 2021, sebagai dampak awal dari kebijakan perdagangan dan imigrasi pemerintahan Trump.

Data terpisah dari ADP Research pada Rabu menunjukkan pekerjaan di sektor swasta AS turun untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun. Meski ada tanda-tanda pelemahan, Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell tetap menegaskan pasar tenaga kerja masih kuat. Bank sentral AS sejauh ini menahan diri untuk tidak menurunkan suku bunga tahun ini sambil menunggu efek tarif terhadap inflasi.

“Salah satu alasan The Fed bisa bersabar untuk tidak buru-buru memangkas suku bunga adalah karena pasar kerja yang masih solid. Kalau itu berubah, The Fed mungkin harus bertindak lebih cepat dari rencana mereka,” kata Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management.

Setelah data ADP dirilis, para trader meningkatkan ekspektasi akan ada setidaknya dua kali penurunan suku bunga tahun ini, dengan peluang pertama pada September. Jika laporan ketenagakerjaan mendatang menunjukkan pelemahan lebih lanjut, pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga bisa dilakukan lebih cepat.