English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Rupiah Stabil Mengawali Pekan Perdagangan Kala Global Masih Galau

Bloomberg Technoz · 62.8K Views

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah dibuka sedikit berubah pada perdagangan hari pertama pekan kedua Juni, setelah libur panjang berakhir, di tengah lanskap global yang masih dibekap penantian hasil pertemuan Amerika Serikat (AS) dan China.

Mengacu Bloomberg, rupiah spot dibuka melemah 0,02% di level Rp16.278/US$. Pelemahan sedikit rupiah mengawali perdagangan hari ini mengikuti gelombang tekanan yang juga dialami mayoritas mata uang Asia.

Yen jadi yang terlemah di Asia saat ini, tergerus 0,42%. Lalu won Korsel juga tergerus 0,37%, baht 0,24%, dolar Singapura juga melemah 0,15%, yuan Tiongkok 0,08%, ringgit melemah 0,05%, yuan offshore 0,03% dan baru rupiah berubah sedikit 0,02%.

Sedangkan di kelompok yang masih menguat ada peso dan dolar Taiwan saja, masing-masing menguat 0,13% dan 0,05%.

Indeks dolar AS pagi ini di Asia dibuka menguat 0,04% dan kini makin menguat ke level 99,13.

Perubahan sedikit rupiah di awal perdagangan berlangsung ketika indeks saham dibuka menguat kini melenggang 7.180, mencerminkan penguatan 0,95%.

Sedangkan di pasar surat utang, mayoritas tenor bergerak turun yield-nya di mana tenor acuan 10Y turun 0,8 basis poin (bps). Sedangkan tenor 2Y dan 5Y masing-masing naik 1,7 bps dan 2,6 bps.

Pertemuan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok merundingkan isu perdagangan di antara mereka di London pada Senin, menjadi perhatian utama para pelaku pasar di tengah pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa Tiongkok 'tidak mudah' mengomentari hubungan terkini dua negara terbesar itu.

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan diskusi antara Washington dan Beijing "berbuah hasil," sementara Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut pertemuan tersebut "baik."

"Kami baik-baik saja dengan China. China tidak mudah," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin. "Saya hanya mendapat laporan yang baik."

Pembicaraan akan berlanjut ke hari kedua, menurut seorang pejabat AS, karena kedua pihak berusaha meredakan ketegangan terkait pengiriman teknologi dan tanah jarang. Para penasihat akan bertemu lagi pada Selasa pukul 10 pagi di London.

Bukti konkret bahwa tarif berdampak pada perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia muncul pada Senin, di mana data menunjukkan pengiriman China ke AS bulan lalu mengalami penurunan terburuk dalam lebih dari lima tahun terakhir.

"Pasar bergerak lebih tinggi karena penundaan tarif dan persepsi bahwa tarif akan lebih moderat dari yang diumumkan sebelumnya," kata Richard Saperstein dari Treasury Partners, dilansir dari Bloomberg.

"Kami memperkirakan pasar akan tetap sensitif terhadap berita utama karena negosiasi kesepakatan dagang membutuhkan waktu dan berita tarif yang meresahkan kemungkinan akan menyebabkan volatilitas yang signifikan."

Dari dalam negeri, para pelaku pasar akan mencermati rilis data cadangan devisa pada Mei yang akan diumumkan pagi ini oleh Bank Indonesia.

Sementara sepanjang pekan ini, kalender ekonomi akan berpusat pada rilis data inflasi AS, selain mencermati perkembangan isu tarif di antara dua negara raksasa, serta kemajuan kesepakatan AS dengan negara-negara yang ia bidik.