English
English
繁體中文
Tiếng Việt
ภาษาไทย
日本語
한국어
Bahasa Indonesia
Español
Português
Русский язык
اللغة العربية
zu-ZA
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

6 Alasan Kenapa Trump Suka Suku Bunga Rendah

CNBC Indonesia · 80K Views

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sangat menyukai suku bunga rendah. Presiden Donald Trump menginginkan The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga sebagai tindakan balasan terhadap perlambatan ekonomi yang diperkirakan dan meningkatnya inflasi dari tarif.

Namun, ketidakpastian yang meluas hanya membuat The Fed semakin sulit untuk mengakhiri pola penahanannya saat ini pada pemotongan suku bunga.

Trump sangat menginginkan suku bunga yang lebih rendah untuk mengurangi perlambatan ekonomi yang tak terhindarkan, karena kebijakan tarifnya menaikkan biaya konsumen dan menghambat perdagangan global.

Sementara itu, Powell tidak ingin memangkas suku bunga terlalu cepat, karena ia khawatir inflasi akan kembali naik. Powell juga bersikap hati-hati karena ia memasuki wilayah ekonomi yang belum dipetakan: kebijakan tarif Trump sangat belum pernah terjadi sebelumnya sehingga hasilnya tidak dapat diprediksi.

Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu pekan kemarin menggandakan seruannya kepada Ketua The Federal Reserve Jerome Powell untuk menurunkan suku bunga, dengan mencatat bahwa perusahaan pemrosesan penggajian ADP melaporkan bahwa penciptaan lapangan kerja melambat pada bulan Mei.

"Angka ADP keluar, terlambat Powell sekarang harus menurunkan suku bunga. Dia tidak dapat dipercaya. Eropa telah menurunkan sembilan kali," ucap Trump dalam posting Truth Social.

ADP melaporkan pada hari Rabu (4/6/2025) bahwa penggajian swasta AS meningkat jauh lebih sedikit dari yang diharapkan pada bulan Mei, hanya meningkat 37.000 pekerjaan bulan lalu setelah kenaikan 60.000 pada bulan April yang direvisi turun. Ekonom yang disurvei oleh Reuters telah memperkirakan lapangan kerja swasta meningkat 110.000 setelah kenaikan yang dilaporkan sebelumnya sebesar 62.000 pada bulan April.

Data ADP hari Rabu muncul sebelum laporan ketenagakerjaan yang lebih komprehensif yang akan dirilis pada hari Jumat oleh Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja.

Trump, seorang Republikan, telah menyerang Powell selama berbulan-bulan melalui serangan yang sering kali bersifat pribadi, dengan seruannya agar ketua The Fed mengundurkan diri yang membebani saham dan pasar keuangan AS.

Serangan Trump yang berulang kali telah menimbulkan pertanyaan tentang kelanjutan independensi bank sentral AS di bawah pemerintahan Trump, meskipun presiden AS bulan lalu mengatakan ia tidak akan mencopot ketua The Fed sebelum masa jabatannya berakhir pada Mei 2026.

CNBC Indonesia Research telah mencatatkan untuk anda poin-poin utama mengapa Presiden AS Donald Trump sangat menyukai dan mendukung suku bunga rendah.

Alasan Utama Trump Menyukai Suku Bunga Rendah

1. Merangsang Pertumbuhan Ekonomi

Suku bunga yang lebih rendah membuat pinjaman lebih murah bagi bisnis dan konsumen.
Mendorong pengeluaran, investasi, dan ekspansi—meningkatkan pertumbuhan PDB.

2. Dorongan Pasar Saham

Suku bunga yang rendah cenderung mendorong harga saham naik.
Trump sering kali mengaitkan kinerja pasar saham dengan keberhasilan ekonominya.

3. Latar Belakang Real Estat

Sebagai pengembang real estat, Trump diuntungkan oleh biaya pinjaman yang rendah.
Pembiayaan yang lebih murah membuat pengembangan dan investasi properti lebih menguntungkan.

4. Defisit & Layanan Utang

Suku bunga yang rendah mengurangi biaya layanan utang nasional.
Membantu menjaga pembayaran bunga pinjaman pemerintah lebih mudah dikelola.

5. Daya Tarik Politik

Ekonomi yang kuat dan pasar yang meningkat bagus untuk kampanye pemilihan ulang.
Trump menekan Fed untuk mempertahankan suku bunga rendah selama masa jabatannya sebagai presiden guna mempertahankan momentum ekonomi.

6. Devaluasi Mata Uang & Perdagangan

Suku bunga yang lebih rendah dapat melemahkan dolar AS, sehingga membuat ekspor lebih kompetitif.

CNBC INDONESIA RESEARCH