English
English
繁體中文
Tiếng Việt
ภาษาไทย
日本語
한국어
Bahasa Indonesia
Español
Português
Русский язык
اللغة العربية
zu-ZA
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Rupiah Terbebani Luar Dalam, Investor Banyak Menahan Diri

Bloomberg Technoz · 324.2K Views

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah sepertinya masih akan sulit untuk bangkit menguat di tengah kebangkitan lagi pamor dolar Amerika di pasar global, juga ketika arus keluar modal asing berlanjut di pasar saham domestik terbebani data kinerja dagang terakhir RI yang mengkhawatirkan.

Indeks dolar AS ditutup menguat kemarin di bursa New York pasca data pembukaan lapangan kerja di negeri itu, JOLTS Opening, menunjukkan kenaikan tak terduga yang menambahkan sinyal ketangguhan ekonomi terbesar di dunia. 

Data itu membuat animo kembali besar ke aset ekuitas AS sehingga the greenback kembali jadi buruan. Tren itu menekan mata uang lawan dolar AS seperti euro dan poundsterling.

Di pasar offshore, rupiah Non Deliverable Forward (NDF) ditutup melemah kemarin di level Rp16.360/US$. Level itu masih lebih lemah dibanding posisi penutupan rupiah spot kemarin di Rp16.290/US$.

Di pasar Asia pagi ini, pergerakan valuta bervariasi di mana ringgit dan yuan offshore beserta dolar Hong Kong tertekan di zona merah. Sedangkan baht, won serta yen, menguat tipis pagi ini ketika DXY bergerak di kisaran 99,14.

Rupiah masih akan berat untuk membalik situasi karena arus keluar modal asing dari pasar saham kembali berlanjut. Dua hari perdagangan pekan ini, asing telah membukukan penjualan senilai Rp3,5 triliun.

Di pasar surat utang negara, animo investor juga meredup seperti terlihat dari gelar lelang SUN kemarin. Nilai incoming bids anjlok hingga hampir 30%. Investor memasukkan penawaran hanya sebesar Rp77,18 triliun, ambles dibanding nilai penawaran pada lelang sebelumnya yang mencapai Rp108,33 triliun.

Investor terlihat masih mengkhawatirkan potensi risiko berlanjutnya penurunan nilai surplus dagang akibat lonjakan impor yang luar biasa ketika ekspor stagnan di tengah perang dagang.

Nilai surplus dagang yang ambles dapat membuat pertahanan rupiah melemah karena defisit transaksi berjalan bisa makin lebar ke depan. Rupiah yang lemah akan menciderai kinerja korporasi terutama yang sensitif dengan pergerakan valas, di tengah kelesuan daya beli yang masih berlanjut ketika badai PHK membesar.

Selain itu, pekan ini hanya berlangsung empat hari perdagangan sehingga para investor cenderung mengambil sikap taktis dengan menahan diri demi memitigasi risiko yang mungkin muncul dari pasar global ketika bursa domestik libur mulai Jumat nanti.

Analisis teknikal
Secara teknikal nilai rupiah berpotensi melanjutkan tren pelemahan di zona merah menuju Rp16.310/US$ terdekat sampai dengan Rp16.350/US$, dengan mencermati support kuat rupiah pada Rp16.400/US$.

Sementara trendline sebelumnya pada time frame daily menjadi resistance terdekat potensial pada level Rp16.250/US$. Kemudian, target penguatan lanjutan untuk kembali ke atas level Rp16.200/US$.

Apabila terjadi penguatan optimis di Rp16.200/US$ hingga Rp16.180/US$ dalam tren jangka pendek (short-term), maka rupiah berpotensi terus menguat dan uji resistance baru hingga Rp16.100/US$.

Sebaliknya, selama nantinya nilai rupiah bertengger di atas Rp16.400/US$ usai pelemahan, maka masih ada potensi untuk lanjut melemah hingga Rp16.500/US$ menjemput tekanan sebelumnya.

Prospek bunga The Fed
Data JOLTS Opening memperkuat pernyataan Federal Reserve, bank sentral AS, bahwa pasar kerja negeri itu dalam kondisi yang baik. Kendati para ekonom sebagian masih mengkhawatirkan pelemahan akan terlihat nyata beberapa bulan ke depan akibat kebijakan tarif dan sepertinya belum terlihat pada data-data saat ini.

Yang pasti, data terakhir itu tidak mengubah ekspektasi kebijakan bunga The Fed. Pasar swap masih memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan bunga acuan The Fed tahun ini, kemungkinan mulai Oktober.

"Jumlah lowongan pekerjaan yang lebih tinggi daripada ekspektasi adalah tanda baik bagi perekonomian karena banyak yang khawatir bahwa ketidakpastian tarif terlalu membebani bisnis," kata Chris Zaccarelli di Northlight Asset Management, dilansir dari Bloomberg.

Yang terbaru, Gubernur Federal Reserve Bank Atlanta Raphael Bostic, menyatakan bahwa ia belum terburu-buru untuk menurunkan suku bunga. Ia menegaskan bahwa masih dibutuhkan "banyak" kemajuan dalam pengendalian inflasi, meskipun data harga terbaru menunjukkan perkembangan positif.

“Masih ada jalan panjang terkait kemajuan yang perlu kita lihat,” ujar Bostic dalam panggilan telepon dengan wartawan pada Selasa (3/6/2025). “Saya belum menyatakan kemenangan atas inflasi.”

Pada hari yang sama, Bostic juga merilis esai terbarunya mengenai kondisi ekonomi. Dalam tulisan tersebut, ia menegaskan kembali pendiriannya bahwa belum ada kebutuhan untuk menyesuaikan suku bunga hingga jelas bagaimana kebijakan tarif dan lainnya akan diterapkan serta dampaknya terhadap perekonomian.

“Saya tetap percaya bahwa pendekatan terbaik untuk kebijakan moneter saat ini adalah kesabaran,” tulisnya dalam esai tersebut. “Selama ekonomi secara umum masih sehat, kita memiliki ruang untuk menunggu dan melihat bagaimana ketidakpastian ini memengaruhi ketenagakerjaan dan harga. Karena itu, saya tidak terburu-buru mengubah kebijakan.”

Pasar juga masih akan mencermati perkembangan pembicaraan Tiongkok dan AS setelah ketegangan meningkat lagi ditandai dengan aksi tuding dua negara tersebut soal kebijakan tarif. Pernyataan terakhir pemerintah AS menyebut dua negara akan bertemu lagi pekan ini, melibatkan langsung dua pimpinan yakni Donald Trump dan Xi Jinping.