English
English
繁體中文
Tiếng Việt
ภาษาไทย
日本語
한국어
Bahasa Indonesia
Español
Português
Русский язык
اللغة العربية
zu-ZA
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Bursa Asia Waspada usai Trump Berencana Naikkan Tarif Impor Baja

Bloomberg Technoz · 27.3K Views

Matthew Burgess - Bloomberg News

Bloomberg, Bursa saham Asia diperkirakan akan dibuka dengan hati-hati setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan rencana untuk menggandakan tarif impor baja dan aluminium. Sementara itu, harga minyak melonjak sekitar 2% seiring peningkatan pasokan yang bersaing dengan risiko geopolitik yang semakin memanas.

Indeks saham berjangka AS melemah dalam perdagangan awal menyusul pengumuman Trump pada Jumat (30/05/2025). Kontrak saham Asia pun menunjukkan pembukaan yang lesu saat pasar dibuka kembali. Harga minyak menguat setelah OPEC+ menyepakati penambahan pasokan sebesar 411.000 barel per hari, serta meningkatnya serangan militer Ukraina terhadap Rusia.

Kewaspadaan investor muncul setelah pasar saham global mencatatkan kinerja terbaiknya sejak November 2023 selama bulan Mei, saat pelaku pasar meyakini bahwa ancaman tarif dari AS telah mereda. Namun kini, pasar kembali dibayangi ketidakpastian kebijakan perdagangan dan perundingan internal Kongres AS terkait rancangan undang-undang besar tentang pajak dan belanja negara.

“Menavigasi ekonomi global dan mengelola volatilitas pasar modal memang selalu menantang, tetapi ketidakpastian yang datang dari Washington membuat situasi ini semakin berisiko,” tulis Marc Chandler, Kepala Strategi Pasar di Bannockburn Capital Markets, dalam sebuah catatan.

Grafik saham global. (Sumber: Bloomberg)

Obligasi pemerintah AS (Treasury) mencatatkan kerugian bulanan pertama sepanjang tahun ini pada Mei, tertekan oleh ketidakpastian tarif yang kembali muncul dan kekhawatiran atas tingginya utang pemerintah. Imbal hasil obligasi bertenor 30 tahun naik untuk bulan ketiga berturut-turut — tren terpanjang sejak 2023 — seiring Trump berupaya meloloskan rancangan undang-undang pemotongan pajak di Kongres.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, akhir pekan lalu kembali menegaskan bahwa negaranya “tidak akan pernah gagal bayar,” meskipun tenggat waktu untuk menaikkan plafon utang federal semakin dekat.

Sementara itu, fokus pelaku pasar Asia akan segera beralih ke saham-saham Hong Kong setelah data aktivitas manufaktur China menunjukkan kontraksi yang melambat pada Mei dibanding bulan sebelumnya. Pasar China daratan sendiri tutup untuk libur nasional.

Menambah dinamika sentimen, Trump dan Presiden China Xi Jinping diperkirakan akan melakukan pembicaraan via telepon dalam pekan ini untuk meredakan ketegangan, setelah pejabat Gedung Putih pada Jumat malam menuding Beijing tidak mematuhi beberapa poin dalam kesepakatan dagang.

“Saham berada dalam risiko koreksi baru, mengingat ketidakpastian tarif yang terus berlangsung, kekhawatiran terhadap utang AS, potensi pelemahan ekonomi dan laba perusahaan, serta risiko serangan AS atau Israel terhadap fasilitas nuklir Iran jika diplomasi gagal,” tulis Shane Oliver, Kepala Strategi Investasi dan Kepala Ekonom di AMP Ltd, dalam laporannya.