English
English
繁體中文
Tiếng Việt
ภาษาไทย
日本語
한국어
Bahasa Indonesia
Español
Português
Русский язык
اللغة العربية
zu-ZA
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Harga Emas Dunia Terus Menguat Ditopang Pelemahan Dollar AS

Kompas · 311.4K Views

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia naik tiga hari berturut-turut dan mencapai level tertinggi dalam satu minggu pada akhir perdagangan Rabu (21/5/2025) waktu setempat atau Kamis (22/5/2025) pagi WIB.

Emas menguat didukung oleh pelemahan dollar AS di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot naik 0,7 persen ke level 3.312,77 dollar AS per ons.

Sementara itu, harga emas berjangka Comex New York Exchange naik 0,9 persen ke level 3.313,50 dollar AS per ons.

Adapun pada perdagangan Selasa, harga emas di pasar spot naik 1,7 persen, melanjutkan penguatan dari perdagangan Senin yang naik 0,9 persen.

Harga emas dunia menguat seiring dengan indeks dollar AS melemah 0,6 persen pada perdagangan kemarin.

Hal ini membuat harga emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga meningkatkan minat terhadap emas.

Di sisi lain, indeks utama Wall Street merosot dan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik.

Kondisi ini disebabkan oleh investor yang tengah mengamati dengan saksama perdebatan penting mengenai RUU pemotongan pajak Presiden AS Donald Trump, yang telah memicu kekhawatiran tentang utang negara yang terus meningkat.

Investor khawatir bahwa RUU pajak baru di AS ini akan memperburuk defisit anggaran.

Tiga lembaga pemeringkat utama, yakni Moody's, Fitch, dan S&P pun telah menurunkan peringkat kredit AS.

"Kami agak terhenti di kisaran tengah antara harga tinggi dan harga rendah, menunggu sinyal lebih banyak kesepakatan perdagangan dan tarif," ujar Daniel Pavilonis, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

Menurut jajak pendapat Reuters, para ekonom menilai prospek ekonomi AS tetap lemah meskipun perang dagang dengan China mereda sementara.

Sementara itu, kondisi di Timur Tengah masih memanas.

Mengutip beberapa sumber, intelijen baru menunjukkan Israel sedang bersiap untuk menyerang fasilitas nuklir Iran, bahkan saat pemerintahan Trump sedang berunding dengan Iran mengenai program pengayaan uraniumnya.

Kondisi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global ini pada akhirnya meningkatkan minat investor terhadap emas, yang memang merupakan aset lindung nilai atau safe haven. "Kami memperkirakan penurunan harga emas baru-baru ini akan merangsang pembelian investasi, karena ketidakpastian ekonomi makro dan geopolitik masih ada," kata ANZ dalam sebuah catatan.