

Market Analysis
Arus 'Sell America' Membesar, Rupiah Bisa Lanjutkan Penguatan

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah bersiap melanjutkan penguatan pada perdagangan spot hari ini, di tengah lanskap global yang lebih berpihak pada mata uang di luar dolar Amerika, juga setelah keputusan Bank Indonesia memangkas bunga acuan sebesar 25 basis poin kemarin.
Indeks dolar AS makin terperosok menyentuh level 99,57 pagi ini setelah kemarin ditutup turun 0,56%.
Arus 'Sell America' masih berlanjut di pasar global dengan indeks saham di Wall Street terkoreksi, bersamaan dengan dilepasnya surat utang US Treasury dengan lonjakan yield hingga mencapai 5,13% untuk tenor 20Y dan 5,09% untuk tenor 30Y. Gelar lelang Treasury juga disambut dingin oleh pasar menaikkan kekhawatiran bahwa kepercayaan investor global makin merosot.
Gelombang global keluar dari pasar AS dilatarbelakangi oleh kekhawatiran akan makin besarnya defisit utang Negeri Paman Sam yang membuat investor risau dengan prospek investasi di negeri tersebut.
Situasi tersebut sejauh ini menguntungkan aset-aset portofolio di negara lain, termasuk emerging market. Lonjakan yield surat utang pemerintah Jepang yang makin menyaingi pamor US Treasury, yang telah berpuluh tahun menempati status sebagai aset aman.
Pelemahan indeks dolar AS juga memberi energi penguatan pada mata uang di luar dolar. Di pasar offshore, rupiah NDF menguat 0,37% pada penutupan bursa New York dini hari tadi. Pagi ini, rupiah bergerak di kisaran Rp16.371/US$.
Level tersebut lebih kuat dibanding posisi penutupan rupiah spot kemarin di Rp16.395/US$, mengisyaratkan peluang penguatan rupiah terbuka hari ini.
Di pasar Asia pada Kamis pagi ini, sebagian besar valuta menang melawan dolar AS. Baht memimpin penguatan bersama ringgit, yen serta dolar Hong Kong dan yuan offshore. Sementara won dan dolar Singapura masih melemah pagi ini.
Namun, rupiah mungkin masih perlu mewaspadai bila terjadi aksi profit taking di bursa saham pagi ini setelah indeks sudah melesat 20% dari level terendah April lalu. Arus keluar modal asing dari saham bila kembali terjadi akan memberikan tekanan pada suplai dolar AS di pasar.
Kemarin saat BI rate dipangkas, asing masuk belanja saham domestik senilai US$ 58,8 juta, sekitar Rp960,35 miliar.
Ada juga risiko dari pembalikan dana asing di pasar surat utang terutama karena selisih imbal hasil yang makin menyempit antara Surat Utang Negara dengan US Treasury, yang kini tinggal 220 basis poin.
Sampai data terakhir 20 Mei, pemodal asing telah membukukan belanja di pasar SUN senilai US$ 728,7 juta month-to-date. Angka itu sekitar Rp11,94 triliun dengan kurs dolar saat ini.
Analisis teknikal
Secara teknikal nilai rupiah berpotensi menguat setelah kemarin kemarin berhasil menembus level resistance potensial yang mencerminkan soliditas di tren penguatan. Level resistance berikut rupiah ada di Rp16.350/US$ yang merupakan resistance pertama dengan target penguatan kedua akan melaju ke Rp16.300/US$.
Apabila kembali break kedua titik tersebut, rupiah berpotensi menguat lanjutan menuju level Rp16.250/US$ hingga Rp16.200/US$ sebagai resistance paling potensial.
Apabila nilai rupiah mengalami tekanan pelemahan hari ini, support patut dicermati pada level Rp16.410/US$ dan Rp16.450/US$. Dengan target pelemahan akan tertahan MA-50 di Rp16.560/US$.

