English
English
繁體中文
Tiếng Việt
ภาษาไทย
日本語
한국어
Bahasa Indonesia
Español
Português
Русский язык
اللغة العربية
zu-ZA
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

BI Rate Turun: IHSG 'Terbang' Melesat 1%, Rupiah Makin Menguat

Bloomberg Technoz · 22K Views

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar keuangan terpantik euforia pemangkasan bunga acuan BI rate oleh Bank Indonesia yang diumumkan pada siang ini.

Indeks saham, IHSG, yang sejak pagi sudah memulai penguatan, makin melesat naik 0,99% menyentuh level 7.168, sesaat setelah penurunan bunga acuan BI rate sebesar 25 basis poin diumumkan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo.

Saham-saham perbankan makin berkejaran harganya mendongkrak indeks. Di antaranya BBCA naik 2,37%, BBRI naik 1,9%, BMRI naik 2,31%. Saham sektor konsumer juga melesat di antaranya AMRT yang naik harganya 5,20%, bersama INDF juga naik 1,6%.

Sementara rupiah bergerak menguat setelah sempat agak tertekan sebelum pengumuman BI dilakukan. Rupiah bergerak menguat 0,12% ke level Rp16.395/US$. 

Adapun harga surat utang negara di pasar sekunder bergerak stabil di mana yield SUN-2Y turun sedikit 0,5 bps ke level 6,239%. Lalu yield SUN-5Y juga turun 2,3 bps di level 6,461% dan yield SUN-10Y terkikis turun 1,8 bps ke level 6,826%.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia bulanan edisi Mei ini, memutuskan pemangkasan bunga acuan BI rate sebesar 25 basis poin, menjadi di level 5,50%, sesuai ekspektasi pasar.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam paparannya ketika mengumumkan hasil RDG siang ini, mengatakan, pertumbuhan ekonomi domestik perlu penguatan. 

"Berdasarkan penilaian prospek itu, RDG BI pada 20-21 Mei 2025 memutuskan menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%," kata Perry.

Perry mengatakan, keputusan tersebut konsisten dengan perkiraan inflasi tahun 2025 dan 2026 yang rendah dan terkendali dalam sasaran 2,5% plus minus 1%, juga upaya mempertahankan nilai tukar rupiah sesuai fundamental, serta turut mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

"Ke depan BI akan terus mengarahkan kebijakan moneter menjaga inflasi dalam sasaran dan stabilitas nilai tukar rupiah seusai fundamental dan mencermati ruang untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai dinamika yang terjadi pada perekonomian global dan domestik," kata Perry.