

Market Analysis
Bursa Asia Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Bloomberg Technoz, Bursa saham Asia melemah pada Jumat (21/3/2025), dipicu oleh sinyal buruk dari laporan keuangan perusahaan-perusahaan AS serta serangkaian pertemuan bank sentral yang justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban bagi ekonomi global.
Di Hong Kong, tekanan jual yang besar menyebabkan indeks saham teknologi anjlok sekitar 3% setelah reli baru-baru ini. Saham di China daratan, Indonesia, dan Taiwan juga mengalami penurunan, meskipun beberapa pasar lainnya, seperti Jepang, berhasil mencatatkan kenaikan tipis. Sementara itu, kontrak berjangka saham AS bergerak stagnan.
Para investor saham di Asia kini dihadapkan pada prospek ekonomi global yang semakin tidak menentu. Kekhawatiran atas tarif perdagangan serta laporan keuangan perusahaan terus membebani sentimen pasar. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa tarif balasan yang lebih luas, serta tarif tambahan pada sektor tertentu, akan mulai berlaku pada 2 April—sebuah ancaman besar bagi perekonomian dunia.
"Kebijakan Presiden Trump telah menyuntikkan ketidakpastian ke pasar dengan cara yang belum pernah kita lihat selama bertahun-tahun," ujar Todd Jablonski, Kepala Investasi Multi-Aset dan Kuantitatif di Principal Asset Management, dalam wawancara dengan Bloomberg Television. Ia juga mengungkapkan bahwa perusahaannya telah mengurangi risiko dalam portofolio investasi multi-aset.
Saham FedEx Corp—yang sering dianggap sebagai indikator kesehatan ekonomi—anjlok setelah perusahaan itu memangkas proyeksi keuntungannya akibat meningkatnya biaya dan melemahnya permintaan. Sementara itu, Nike Inc menyebut tarif perdagangan dan ketegangan geopolitik sebagai faktor yang dapat berdampak pada laba perusahaan.
Saat ini, perhatian investor tertuju pada laporan keuangan perusahaan-perusahaan besar China, termasuk Xiaomi Corp, Tencent Holdings Ltd, dan raksasa e-commerce Meituan. Saham PDD Holdings Inc yang terdaftar di bursa AS sempat menguat setelah mencatatkan hasil lebih baik dari perkiraan, tetapi perusahaan itu tetap mengakui adanya tantangan akibat meningkatnya ketidakpastian global.
Seharusnya, para investor bisa mendapatkan arahan yang lebih jelas pekan ini setelah pertemuan kebijakan moneter oleh bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), Bank of Japan (BoJ), dan Bank of England (BoE). Namun, ketiga bank sentral tersebut justru menyoroti dampak tarif perdagangan sebagai faktor yang semakin mengaburkan prospek ekonomi. Hal ini semakin memperkuat ketidakpastian di kalangan investor menjelang diberlakukannya tarif baru pada 2 April.
Di Eropa, Uni Eropa memutuskan untuk menunda penerapan tarif terhadap produk whiskey asal AS. Blok perdagangan tersebut menyatakan siap berdiskusi dengan Trump sebelum mengambil keputusan lebih lanjut terkait tarif balasan, menurut Wakil Perdana Menteri Irlandia.
Sementara itu, pasar obligasi AS tidak banyak berubah pada Jumat, sementara indeks dolar AS mencatat kenaikan tipis. Yen melemah setelah inflasi konsumen di Jepang melambat, dan poundsterling semakin tertekan setelah Bank of England memutuskan untuk mempertahankan suku bunga.
Wall Street juga menghadapi tantangan besar menjelang berakhirnya kontrak opsi senilai US$4,5 triliun pada Jumat, dalam fenomena yang dikenal sebagai triple witching—sebuah peristiwa yang sering kali meningkatkan volatilitas pasar.
"Pasar akan terus bergerak naik dan turun selama ketidakpastian kebijakan masih berlangsung," ujar Michael Rosen, Kepala Investasi di Angeles Investments, dalam wawancara di kantor pusat Bloomberg di New York. "Sentimen investor akan sangat fluktuatif, dan itu akan tercermin di pergerakan pasar."
Indeks saham utama Indonesia sempat anjlok hingga 2,6% sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugian. Ketidakpastian seputar kebijakan Presiden Prabowo Subianto semakin meningkatkan kegelisahan di pasar, memicu kejatuhan tajam indeks saham di awal pekan ini.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah naik setelah AS menjatuhkan sanksi terhadap sebuah kilang minyak di China, langkah yang dinilai sebagai eskalasi dalam upaya membatasi pasokan minyak Iran. Sementara itu, harga emas sedikit melemah setelah sempat mendekati rekor tertinggi.
Beberapa pergerakan utama di pasar:
Saham
- Kontrak berjangka S&P 500 sedikit berubah pada pukul 1:04 siang. Waktu Tokyo
- Nikkei 225 futures (OSE) naik 0,3%
- Topix Jepang naik 0,7%
- S&P/ASX 200 Australia naik 0,4%
- Hang Seng Hong Kong turun 2%
- Shanghai Composite turun 0,9%
- Euro Stoxx 50 futures turun 0,2%
Mata Uang
- Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,1%
- Euro turun 0,1% menjadi $1,0835
- Yen Jepang turun 0,3% menjadi 149,24 per dolar
- Yuan offshore sedikit berubah pada 7,2578 per dolar
- Dolar Australia turun 0,2% menjadi $0,6293
- Poundsterling Inggris turun 0,2% menjadi $1,2944
Mata Uang Kripto
- Bitcoin sedikit berubah pada $84.521,56
- Ether sedikit berubah pada $1.979,22
Obligasi
- Imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun naik satu basis poin menjadi 4,25%
- Imbal hasil obligasi 10 tahun Jepang naik satu basis poin menjadi 1,525%
- Imbal hasil obligasi 10 tahun Australia naik dua basis poin menjadi 4,39%
Komoditas
- Minyak mentah West Texas Intermediate naik 0,5% menjadi $68,43 per barel
- Emas spot turun 0,5% menjadi $3.030,47 per ons
Artikel ini dibuat dengan bantuan Bloomberg Automation.

