

Market Analysis
Bursa Asia Diprediksi Melemah, Pasar Cemas Akan Ekonomi AS

Bloomberg, Bursa saham di Asia diperkirakan akan mengikuti tren penurunan di Wall Street, setelah laporan terbaru mengenai keyakinan konsumen AS yang mengecewakan kembali memicu kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi terbesar di dunia. Sementara itu, lonjakan permintaan terhadap obligasi AS mendorong imbal hasil Treasury 10 tahun ke level terendah tahun ini.
Kontrak berjangka menunjukkan potensi penurunan di Tokyo dan Sydney, sementara Hong Kong diprediksi mengalami kenaikan. Indeks S&P 500 ditutup pada level terendah dalam lima minggu, sementara indeks saham megakorporasi mengalami koreksi lebih dari 10% dari puncaknya. Saham-saham spekulatif mengalami tekanan jual terbesar, dengan Bitcoin yang turun 6% dan menyeret dana exchange-traded fund (ETF) berbasis kripto ke zona merah.
Keyakinan konsumen AS tercatat mengalami penurunan terbesar sejak Agustus 2021 akibat kekhawatiran terhadap prospek ekonomi secara keseluruhan. Data ini mengikuti sejumlah laporan negatif dari sektor ritel, jasa, dan perumahan. Meskipun tekanan inflasi masih tinggi, kondisi ini membuat investor semakin yakin bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga tahun ini.
"Pasar tampaknya masih lebih khawatir terhadap pertumbuhan ekonomi dibandingkan inflasi," kata Chris Verrone dari Strategas.
Sementara itu, Keith Lerner dari Truist Advisory Services menilai bahwa meskipun tren utama di pasar saham masih positif dan risiko resesi tetap rendah, potensi risiko dalam jangka pendek lebih berimbang.
"Kami melihat sedikit penurunan dalam tren laba perusahaan, analisis teknikal, dan kondisi ekonomi yang membuat kami mengambil posisi lebih netral terhadap saham serta menambah sedikit likuiditas dalam bentuk tunai," ujarnya.
Pada perdagangan terakhir, indeks S&P 500 turun 0,5%, sementara Nasdaq 100 anjlok 1,2%. Indeks saham "Magnificent Seven" turun 2,2%, dengan saham Nvidia Corp melemah 2,8% sehari sebelum laporan keuangannya dirilis. Tesla juga merosot 8,4% hingga kehilangan statusnya sebagai perusahaan dengan valuasi lebih dari US$1 triliun.
Di sisi lain, indeks saham perusahaan China yang terdaftar di AS naik 0,6% setelah sebelumnya anjlok 5,2% pada Senin, mencatat penurunan harian terbesar dalam lebih dari empat bulan. Langkah Presiden Donald Trump untuk semakin memisahkan hubungan ekonomi AS-China membuat investor global cemas, terutama mereka yang sebelumnya bertaruh pada pemulihan pasar saham China.
Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun turun 11 basis poin, sementara obligasi Australia mengalami penurunan 4 basis poin di awal perdagangan Rabu. Pasar kini memperkirakan adanya lebih dari dua kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin oleh The Fed pada 2025. Sementara itu, indeks dolar AS melemah 0,2% dan harga minyak turun ke level terendah tahun ini.
Menurut Jeff Roach dari LPL Financial, konsumen AS semakin khawatir terhadap dampak kebijakan tarif yang belum pasti dan bisa saja mempercepat pembelian mereka sebelum harga impor meningkat.
"Keyakinan konsumen terus merosot setelah euforia pasca-pemilu November," ujar Bret Kenwell dari eToro. "Ketidakpastian ekonomi masih tinggi, baik terkait tarif maupun indikator domestik seperti inflasi dan penjualan ritel."
Karena itu, laporan inflasi minggu ini menjadi fokus utama. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (core PCE), yang menjadi ukuran inflasi favorit The Fed, diperkirakan turun ke level terendah sejak Juni.
"Investor harus memperhatikan laporan PCE minggu ini," tambah Kenwell. "Data ini akan memberikan petunjuk tentang bagaimana konsumen melihat daya beli mereka. Jika angka inflasi lebih rendah dari perkiraan, ini bisa menjadi katalis positif bagi pasar."
Sebelum laporan inflasi dirilis, pelaku pasar akan mencermati laporan keuangan Nvidia pada Rabu (26/02/2025), yang dianggap sebagai indikator utama dalam ledakan industri kecerdasan buatan (AI). Hasil laporan ini akan dirilis pada saat yang krusial, dengan pasar saham AS yang rentan dari sisi teknikal dan sistematis.
Menurut Michael Hartnett, analis dari Bank of America Corp, investor mulai meragukan potensi kenaikan lebih lanjut di indeks S&P 500, terutama ketika saham Eropa dan China justru menunjukkan kinerja yang lebih baik.
"Semakin lama S&P 500 membutuhkan waktu untuk mencetak rekor baru, semakin besar keraguan investor," kata Hartnett dalam wawancara dengan Bloomberg Television.
Ia merekomendasikan saham global dibandingkan saham AS tahun ini, dengan alasan bahwa saham-saham megakorporasi seperti "Magnificent Seven" berisiko mengalami tekanan lebih lanjut. Meskipun investor masih cukup optimis terhadap sektor teknologi besar, menurutnya saham-saham tersebut rentan terhadap koreksi jika tren penguatan saat ini tidak berlanjut.
