

Market Analysis
Komentar Trump Soal Tarif, Bikin Pasar Saham China dan Hong Kong Ambruk!

Pada Rabu, 22 Januari 2025, pasar saham di China dan Hong Kong mengalami penurunan signifikan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengisyaratkan kemungkinan penerapan tarif baru sebesar 10% terhadap impor dari China. Indeks CSI 300, yang mencakup saham-saham unggulan di Shanghai dan Shenzhen, turun 0,9%, menandai penurunan harian terbesar dalam hampir dua minggu. Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong merosot 1,6%, menjauh dari posisi tertinggi lima minggunya.
Pernyataan Trump tersebut mengakhiri periode singkat ketenangan di pasar Asia, yang sebelumnya merasa lega karena tidak ada pengumuman tarif spesifik terhadap China pada hari pertama masa jabatannya. Namun, komentar terbaru mengenai kemungkinan penerapan tarif 10% mulai Februari, dengan alasan masih adanya pengiriman fentanil dari China ke AS melalui Meksiko dan Kanada, memicu kekhawatiran baru di kalangan investor.
Liang Ding, analis di firma riset Macro Hive, menyatakan bahwa komentar Trump tersebut bersifat sepintas. Secara keseluruhan, Trump cenderung berhati-hati, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti inflasi tinggi di Amerika Serikat, isu fentanil, dan masalah terkait TikTok. Ding menambahkan bahwa Trump kemungkinan akan menunggu hasil peninjauan kesepakatan dagang Fase I untuk memberikan waktu dalam berdialog dengan China.

Jika tarif tersebut benar-benar diterapkan, dampaknya bisa sangat merugikan ekonomi China, yang saat ini tengah berjuang dengan krisis properti berkepanjangan dan lemahnya permintaan konsumen. Sektor real estat China mengalami penurunan tajam sebesar 4,1%, menghapus keuntungan yang diperoleh pada hari sebelumnya. Selain itu, sektor chip di China juga mengalami penurunan 1% setelah Trump mengumumkan investasi sektor swasta hingga $500 miliar untuk mendanai infrastruktur kecerdasan buatan guna mengungguli negara-negara pesaing.
Mata uang yuan juga mengalami pelemahan sekitar 0,2%, meskipun bank sentral China menetapkan titik tengah pada level tertinggi dalam lebih dari dua bulan. Pelemahan yuan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi ketegangan perdagangan antara AS dan China.
Sementara itu, pasar saham global lainnya menunjukkan respons beragam terhadap perkembangan ini. Saham-saham di Jepang dan Amerika Serikat mengalami kenaikan, didorong oleh serangkaian kebijakan yang diperkenalkan oleh Presiden Trump dan laporan pendapatan perusahaan yang kuat. Namun, ketidakpastian terkait tarif membebani nilai dolar AS, yang tetap mendekati level terendah dua minggu.
Di sisi lain, pejabat China melihat adanya peluang untuk menghindari perang dagang dengan Amerika Serikat meskipun ada ancaman tarif dari Trump. Mereka merasa lega karena respons yang diterima lebih ringan dengan perintah investigasi dan ancaman tarif 10% pada barang terkait fentanil, dibandingkan dengan tarif 25% yang dikenakan pada Meksiko dan Kanada. Hal ini menimbulkan harapan untuk negosiasi lebih lanjut guna menghindari perang dagang kedua.
Secara keseluruhan, pernyataan Presiden Trump mengenai kemungkinan penerapan tarif baru terhadap China telah menimbulkan volatilitas di pasar keuangan Asia, khususnya di China dan Hong Kong. Para pelaku pasar kini menantikan perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia ini, yang akan sangat mempengaruhi sentimen dan kinerja pasar di masa mendatang.
Download segera aplikasi Dupoin #One-Stop Trading Platform agar tidak ketinggalan informasi menarik lainnya seputar dunia trading atau investasi lainnya, dan jangan lupa untuk selalu membagikan konten ini ke sesama trader lainnya. Semoga bermanfaat!


