

Market Analysis
Mengapa Banyak Pemuda Dukung Donald Trump dalam Pilpres AS 2024?

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Pada Pilpres AS 2024, banyak pemuda yang memilih Donald Trump untuk menjadi Presiden Amerika Serikat.
Sebelumnya, Kamala Harris yang menjadi saingan Trump mengedepankan hak aborsi dalam kampanyenya.
Harris merasa telah menemukan formula jitu untuk merayu pemilih perempuan, tetapi Trump yang justru menang.
Baca juga: Partai Republik Diproyeksikan Raih Kemenangan di Kursi DPR AS
Kaum muda secara keseluruhan cenderung lebih liberal bukanlah halangan bagi kampanye presidensial AS yang memanfaatkan maskulinitas kaum muda.
"Jika Anda seorang pria di negara ini dan tidak memilih Donald Trump, Anda bukanlah seorang pria," kata Charlie Kirk, seorang aktivis konservatif yang telah lama berfokus pada suara kaum muda, dikutip dari AFP pada Jumat (8/11/2024).
Diketahui, Donald Trump memenangi kursi kepresidenan dengan 54 persen pria yang memilih kandidat dari Partai Republik, naik sedikit dari 51 persen yang mendukungnya pada 2020, menurut jajak pendapat NBC.
Namun, yang menarik perhatian adalah di kalangan pemilih muda berusia 18-29 tahun, di mana 49 persen pria memilih Trump, menghancurkan citra sebelumnya tentang kaum muda yang umumnya condong ke kiri.
Seperti yang dikatakan Elon Musk, pakar teknologi, pengusaha kaya, dan pendukung utama Trump pada Hari Pemilihan: "pasukan kavaleri telah tiba".
Kemenangan Trump terjadi saat kesenjangan gender mulai terasa di kalangan kaum muda pada umumnya, yakni perempuan di bawah usia 29 tahun memiliki selisih suara Harris-Trump yang sangat besar, 61-37.
"Ada banyak seksisme laten di kalangan pemilih AS, baik anggota laki-laki maupun perempuan," kata Tammy Vigil, seorang profesor madya ilmu media di Universitas Boston, kepada AFP.
"Kampanye Trump memberi orang izin untuk menuruti dorongan terburuk mereka dan merangkul berbagai bentuk perpecahan," jelas dia.
Sementara itu, Spencer Thomas, mahasiswa di Howard University, sebuah perguruan tinggi yang secara historis diperuntukkan bagi orang kulit hitam di Washington juga memberikan komentar.
"Mereka lebih fokus pada kebijakan ekonomi dan berbagai hal serupa, ketimbang hak aborsi," kata Thomas.
Upaya lain yang dilakukan Trump untuk menggaet pemuda ialah tampil di podcast "Joe Rogan Experience", yang pendengarnya sebagian besar adalah anak muda dan laki-laki.
"Ini tujuannya untuk memotivasi para pemuda agar ikut serta," kata Kathleen Dolan, seorang ilmuwan politik di University of Wisconsin, Milwaukee.
"Selebihnya, penampilannya yang maskulin adalah untuk menarik basisnya, baik perempuan maupun laki-laki, yang menyukainya karena mereka menganggapnya 'tangguh' dan seorang 'pemimpin' dan jelas tidak tersinggung dengan hal-hal yang dikatakannya," jelas dia.
Menurut jajak pendapat dari Edison Research, sekitar 54 persen pria Latin memilih Trump pada Selasa. Menjadi kenaikan 18 poin persentase yang sangat besar bagi Partai Republik dibandingkan dengan 2020.

