

Market Analysis
Dolar AS Menguat karena Tiga Hal Ini

Selama perdagangan sesi New York hari ini (14/Oktober), Indeks Dolar AS (DXY) melesat ke 103.10—level tertinggi sejak 2 bulan lalu.
Penguatan Dolar tidak dipicu oleh katalis dari Amerika Serikat, tetapi karena sejumlah peristiwa global berdampak besar: pengumuman stimulus fiskal China, ekspektasi pemangkasan suku bunga ECB, dan risiko perlambatan ekonomi Inggris.
Melansir Reuters, China berencana meluncurkan obligasi pemerintah khusus senilai CN¥2 triliun untuk subsidi anak dan pelunasan utang pemerintah daerah. Bloomberg juga sempat melaporkan China hendak menyuntikkan modal sebesar CN¥1 triliun untuk salah satu bank BUMN terbesar.
Menkeu China Lan Foan minggu lalu mengumumkan bahwa pemerintah daerah tidak hanya siap menyalurkan subsidi, melunasi utang, dan menambah modal bank-bank BUMN, tetapi juga akan mendukung sektor properti serta menambah subsidi untuk kelompok kurang mampu.
Akan tetapi, Lan Foan tidak menyebutkan jumlah dana yang akan dipakai untuk paket stimulus fiskal tersebut. Padahal, besaran target stimulus baru berpotensi mengurangi tekanan deflasi di China.
Para pelaku pasar sontak kecewa sehingga memicu pelemahan ekuitas China. Sentimen negatif pun merembet pada kinerja berbagai komoditas dan mata uang yang nilainya berkaitan erat dengan kondisi ekonomi China.
Harga minyak mentah jatuh di awal perdagangan pekan ini, dan reli harga emas terkoreksi. Tiga mata uang Comdoll (AUD, NZD, dan CAD) kompak melemah versus USD.
Di sisi lain, Euro juga melemah terhadap Dolar AS karena para trader yakin ECB (European Central Bank) akan melanjutkan pemotongan suku bunga sebesar 25 bp pada rapat Kamis mendatang.
Pengumuman kenaikan pajak di Prancis yang kontroversial dan kekhawatiran resesi ekonomi di Jerman semakin memukul Euro. Para ekonom memperkirakan EUR/USD dapat naik lagi jika ECB melontarkan pernyataan yang lebih hawkish terkait proyeksi suku bunga ke depan.
Situasi ekonomi di Inggris mirip dengan yang terjadi di Prancis. Menkeu Inggris Rachel Reeves kemungkinan besar akan mengumumkan kenaikan pajak besar-besaran saat publikasi Anggaran Musim Gugur akhir Oktober nanti.
Selain itu, rilis data-data ekonomi Inggris dalam waktu dekat diperkirakan meleset dari ekspektasi. Sebab, sejumlah data ekonomi yang dirilis minggu lalu menunjukkan hasil mengecewakan.
Situasi yang dipenuhi ketidakpastian ini pun membuat nilai tukar Pound sterling ciut terhadap Dolar AS.

