English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Menebak Arah Pasar Komoditas saat The Fed Pangkas Suku Bunga

Bisnis · 74.6K Views

image.png

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar komoditas diprediksi akan menguat jika pemangkasan suku bunga yang akan dilakukan oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) pada September ini terealisasi.

Pasar komoditas belakangan ini cenderung tertekan akibat permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh China. Hal tersebut terlihat dari data ekspor-impor Negeri Panda tersebut yang berada di bawah ekspektasi.

Pemangkasan suku bunga oleh The Fed bulan ini yang diprediksi sebesar 25 basis poin akan kembali menggairahkan pasar komoditas. Hal tersebut karena pemotongan suku bunga akan berimbas pada melemahnya nilai dolar AS.

Dia menambahkan pemangkasan suku bunga ini juga telah dilakukan oleh bank sentral lain di dunia, seperti Bank of England dan terakhir bank sentral Eropa atau European Central Bank (ECB).

Arah pasar komoditas yang positif pascapemangkasan suku bunga The Fed juga didukung oleh upaya China menggenjot perekonomiannya. Saat ini pemerintah China aktif menggelontorkan stimulus untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya.

Harga komoditas juga akan didukung oleh faktor iklim mengingat beberapa wilayah akan memasuki musim dingin ekstrem pada periode November-Februari. Menurut Ibrahim, hal tersebut akan turut menggenjot permintaan sekaligus harga beberapa komoditas seperti batu bara dan minyak.

Salah satu komoditas yang akan mendapat efek positif dari pemangkasan suku bunga The Fed adalah emas. Ibrahim menyebut, setelah mencatat rekor harga tertinggi atau all time high, harga emas masih memiliki ruang penguatan yang cukup.

“Setelah tembus US$2.550, harga emas diproyeksi bisa mencapai kisaran US$2.600 per troy ounce dengan pemangkasan suku bunga The Fed ini,” kata Ibrahim.

Komoditas lain yang akan diuntungkan dari pemangkasan suku bunga The Fed adalah batu bara. Ibrahim menuturkan, kombinasi kebijakan The Fed dan sentimen musim dingin dapat mengerek naik harga baru bara ke level US$150 per ton.

Selanjutnya, harga nikel juga diprediksi akan mendapat angin segar dari kebijakan The Fed. Ibrahim memprediksi harga nikel dapat kembali menguat ke kisaran US$19.000 per metrik ton.

Dia melanjutkan, harga minyak juga diproyeksikan menguat pascapemotongan suku bunga oleh The Fed. Harga minyak masih optimis dapat mencapai kisaran US$80 hingga US$85 per barel seiring dengan potensi peningkatan permintaan dan upaya dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC untuk menurunkan produksinya.