

Market Analysis
USD/JPY Tembus 160 karena Jadi Sasaran Carry Trade

Selama perdagangan (26/Juni), pasangan mata uang USD/JPY melambung hingga menembus ambang 160. Pair tersebut bahkan sempat menyentuh 160.87, level tertinggi sejak akhir tahun 1986.
Para petinggi Jepang terus menekankan pentingnya nilai tukar mata uang yang mencerminkan fundamentalnya. Namun, pergerakan Yen akhir-akhir ini cenderung disebabkan oleh aksi spekulatif pasar.
Pelemahan Yen terhadap Dolar AS dipicu oleh ramainya transaksi carry trade, yaitu meminjam mata uang berbunga rendah untuk dijual lalu dibelikan mata uang berbunga tinggi. Melalui strategi tersebut, trader mendapat keuntungan dari selisih suku bunga kedua mata uang.
Perbedaan suku bunga yang semakin lebar antara negara-negara mayor dalam beberapa waktu terakhir membuat aktivitas carry trade kian marak. Federal Reserve mempertahankan tingkat suku bunga di atas 5%, sedangkan suku bunga Bank of Japan nyaris nol.
Jepang diisukan sudah melaksanakan beberapa kali intervensi demi memulihkan nilai tukar Yen. Pemerintah bahkan terus-menerus melayangkan ancaman intervensi lanjutan apabila diperlukan.
Akan tetapi, para ekonom menganggap pelemahan Yen akan terus terjadi selama BoJ tidak berniat menaikkan suku bunga sementara bank sentral lain tetap hawkish. Pasalnya, strategi carry trade lebih berkaitan dengan selisih suku bunga, bukan spekulasi jangka pendek.
Joe Tuckey dari Argentex mengatakan bahwa ancaman intervensi Jepang kini tak lagi diperhatikan oleh pasar karena tidak dibarengi dengan perubahan suku bunga.
Sementara itu, para trader menantikan apakah Jepang benar-benar akan mengintervensi pasar lagi untuk menghentikan pelemahan Yen. Apabila tidak ada indikasi bahwa langkah tersebut akan diambil, maka reli USD/JPY berpotensi berlanjut ke level yang lebih tinggi.
