English
English
繁體中文
Tiếng Việt
ภาษาไทย
日本語
한국어
Bahasa Indonesia
Español
Português
Русский язык
اللغة العربية
zu-ZA
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Euro Kian Melemah Jelang Pemilu Putaran Pertama Prancis

Inbizia · 5.2K Views

Euro Kian Melemah Jelang Pemilu Putaran Pertama Prancis

Nilai tukar Euro sudah melemah sejak Pemilu Prancis dimajukan, lalu kian merosot usai jajak pendapat awal dipublikasikan 2 minggu lalu. Euro sempat menguat tipis pasca perubahan sikap kubu sayap kanan yang berjanji tidak akan mengusik kedaulatan Uni Eropa jika memang pemilu.

Akan tetapi, EUR/USD anjlok lagi ke 1.0660 selama perdagangan hari ini (26/Juni). Upaya pemulihan EUR/GBP juga tertahan di 0.8450. Hal ini dipicu oleh publikasi hasil survei terbaru menjelang pemilu Prancis putaran pertama yang akan diadakan pada hari Minggu (30/Juni).

Jajak pendapat The Economist mengungkapkan partai sayap kanan Rassemblement National (RN) masih unggul dengan 37% suara, disusul oleh kubu sayap kiri New Popular Front (NPF) dengan 29% suara. Sementara itu, kubu petahana Ensemble hanya memeroleh 21% suara.

Hasil survei versi Bloomberg menunjukkan hasil yang tak jauh berbeda dengan partai RN mendapat 35% dan NPF 28%. Kekhawatiran pasar semakin menjadi-jadi setelah Fabio Panetta, salah satu anggota Dewan Gubernur ECB (European Central Bank), buka suara.

Panetta mengatakan bahwa perubahan kepemimpinan sering kali berdampak pada ketidakpastian politik dan ekonomi yang menyebabkan arus keluar modal serta depresiasi mata uang. Pada gilirannya, hal tersebut dapat menaikkan tekanan inflasi.

Namun, ketidakpastian ini juga bisa menggoyahkan kepercayaan dan mengurangi permintaan yang berpotensi menghentikan atau bahkan membalikkan pemulihan ekonomi.

Ia bahkan menyatakan kesiapan ECB untuk melakukan penyesuaian moneter, mengatasi ancaman terhadap stabilitas harga, dan melindungi mekanisme transmisi kebijakan moneter jika diperlukan.

Selain kemenangan telak partai sayap kanan RN, sejumlah pakar mulai mempertimbangkan skenario yang lebih buruk lagi: kubu sayap kiri memenangkan pemilu secara tak terduga.

Pasalnya, partai-partai sosialis yang terjalin dalam aliansi NPF telah menjanjikan banyak hal yang akan didanai dengan utang. Mereka berencana membangun layanan publik dan transisi hijau, menaikkan upah minimum, mengubah usia pensiun, serta menaikkan harga eceran berbagai bahan kebutuhan pokok; termasuk listrik, gas, dan BBM.

Semua itu berisiko menaikkan defisit Prancis secara signifikan, bahkan melebihi batas-batas yang telah ditentukan Uni Eropa.