

Market Analysis
Yen Melemah Jelang Keputusan BOJ, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga

KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yen Jepang melemah terhadap dolar AS dan euro pada perdagangan Jumat (18/9/2026), menjelang keputusan suku bunga Bank of Japan (BOJ).
Pasar secara luas memperkirakan bank sentral Jepang akan kembali menaikkan suku bunga dalam pertemuan kebijakan hari ini.
Melansir Reuters, Yen melemah 0,1% menjadi 156,19 per dolar AS pada awal perdagangan Asia. Terhadap euro, yen turun 0,2% menjadi 179,30 per euro.
Pelemahan yen terjadi setelah mata uang Jepang tersebut sempat menghentikan penurunan selama tiga hari berturut-turut pada Kamis (17/9).
Pelaku pasar kini menunggu keputusan BOJ yang diperkirakan akan membawa suku bunga Jepang ke level tertinggi dalam lebih dari tiga dekade.
Data inflasi Jepang yang dirilis Jumat turut menjadi perhatian pasar. Inflasi pada Agustus tercatat sedikit di bawah ekspektasi, sehingga investor mencermati bagaimana BOJ akan merespons perkembangan harga sekaligus kondisi ekonomi domestik.
Berdasarkan harga swap, pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga BOJ mencapai sekitar 83%.
Pasar juga memperkirakan kenaikan suku bunga dapat berlanjut secara bertahap dalam beberapa kuartal mendatang, menurut data LSEG.
"Karena tingkat kenaikan yang sudah diperhitungkan pasar cukup besar, keputusan suku bunga itu sendiri mungkin hanya berdampak terbatas terhadap yen," kata Chris Weston, kepala riset Pepperstone Group di Melbourne.
Menurut dia, perhatian investor justru akan tertuju pada kurva forward swap dan panduan BOJ mengenai kecepatan serta urgensi pengetatan kebijakan moneter selanjutnya.
Pernyataan Gubernur BOJ Kazuo Ueda dalam konferensi pers setelah keputusan suku bunga akan menjadi perhatian utama pasar.
Investor akan mencari sinyal mengenai kemungkinan normalisasi kebijakan moneter berikutnya dan seberapa cepat BOJ berencana melanjutkan kenaikan suku bunga.
Pergerakan Mata Uang Global
Di pasar valuta asing global, poundsterling bergerak datar di sekitar US$ 1,3359, level terendah dalam sekitar 2,5 bulan.
Pergerakan tersebut terjadi setelah Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga pada Kamis dan secara mengejutkan menghentikan penjualan surat berharga pemerintah selama enam bulan.
Euro juga relatif stabil di US$ 1,1478. Sementara itu, dolar Australia menguat 0,1% menjadi US$ 0,7117 setelah Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Michele Bullock memperingatkan anggota parlemen bahwa risiko inflasi yang sebelumnya diidentifikasi bank sentral mulai terealisasi.
Dolar Selandia Baru melemah 0,1% menjadi US$ 0,5724.
Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama bergerak datar di level 100,2100 setelah terkoreksi dari level tertinggi 2,5 bulan pada Kamis.
Pasar juga mulai meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada bulan depan.
Fed funds futures kini menunjukkan probabilitas sekitar 53% untuk kenaikan 25 basis poin dalam pertemuan The Fed berikutnya, naik dari 27,2% sepekan sebelumnya, berdasarkan CME FedWatch.
Pergerakan tersebut terjadi ketika investor menilai upaya Ketua The Fed Kevin Warsh untuk memperkuat kembali independensi bank sentral AS dari Gedung Putih.
Harga Minyak dan Aset Kripto
Di pasar komoditas, harga minyak kembali melemah. Harga Brent turun sekitar 1% menjadi US$ 103,76 per barel pada awal perdagangan.
Investor kembali menilai risiko pasokan setelah Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman saling melancarkan serangan pada Kamis.
China juga meminta Teheran membantu mengendalikan Houthi setelah kelompok tersebut melancarkan serangkaian serangan militer dalam sepekan terakhir, menurut tiga sumber Iran yang mengetahui masalah tersebut.
Sementara itu, pasar aset kripto turut bergerak melemah. Harga bitcoin turun 0,1% menjadi US$ 76.442,97, sedangkan ether terkoreksi 0,2% menjadi US$ 2.447,39.

