English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Bursa Asia Berguguran Senin (14/9), Harga Minyak Tembus US$ 107 per Barel

KONTAN · 1 Views

KONTAN.CO.ID - Pasar saham Asia melemah pada perdagangan Senin (14/9/2026) seiring kembali melonjaknya harga minyak mentah akibat kekhawatiran gangguan pasokan.

Di saat yang sama, investor bersiap menghadapi potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) dan Jepang pekan ini.

Harga minyak Brent sempat melonjak sekitar 3% setelah serangkaian serangan baru terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Teluk meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Serangan terhadap jaringan pipa minyak Arab Saudi serta pergerakan kelompok Houthi di Yaman menambah risiko terganggunya distribusi minyak di tengah konflik yang masih berlangsung.

Di sisi lain, pertemuan Iran dengan negara-negara Arab Teluk yang sedianya digelar di Oman pada Senin untuk membahas kesepakatan pembukaan kembali Selat Hormuz ditunda.

Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global.

Ancaman terhadap pelayaran di kedua jalur tersebut membuat analis memperkirakan harga minyak dapat bertahan di level tinggi dalam waktu yang cukup lama. Kondisi ini berpotensi kembali mendorong inflasi global.

Di pasar keuangan, investor juga mencermati arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed). Data inflasi konsumen Amerika Serikat (AS) yang dirilis Jumat pekan lalu dinilai cukup panas sehingga pasar kini memperkirakan peluang 86% The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Rabu mendatang.

Pasar juga memperkirakan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Desember. Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak pertengahan 2023.

"Kami kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini, pada September dan Desember," kata Michael Feroli, Kepala Ekonom AS JPMorgan.

Menurut dia, jika The Fed tidak menindaklanjuti pernyataannya dengan kebijakan nyata, kredibilitas bank sentral AS berisiko dipertanyakan.

"Apakah langkah tersebut hanya merupakan kalibrasi terbatas atau menjadi awal dari siklus kenaikan yang lebih panjang akan bergantung pada data yang masuk," ujar Feroli.

Sementara itu, harga minyak Brent naik 2,6% menjadi US$ 107,36 per barel setelah melonjak hampir 9% sepanjang pekan lalu. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 2,4% menjadi US$ 102,48 per barel.

Tekanan terhadap pasar saham terlihat di sejumlah bursa utama Asia. Indeks Nikkei Jepang turun 1,7%, sementara indeks saham Korea Selatan merosot 3,3%. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga melemah 0,8%.

Di pasar berjangka Eropa, EUROSTOXX 50 turun 0,5%, DAX melemah 0,4%, sedangkan FTSE terkoreksi 0,1%. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 turun 0,5% dan Nasdaq 100 melemah 1,1%.

Imbal hasil obligasi jadi perhatian

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut menjadi perhatian investor karena dapat menekan valuasi saham.

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 4,967%, setelah obligasi tersebut mengalami tekanan jual dalam beberapa pekan terakhir.

Pada pekan lalu saja, imbal hasil Treasury tenor dua tahun melonjak 26 basis poin, sedangkan tenor 10 tahun naik 19 basis poin.

Ben Snider, Kepala Strategi Ekuitas AS Goldman Sachs mengatakan, kinerja laba perusahaan yang kuat masih dapat menopang pasar saham Wall Street apabila biaya pinjaman meningkat.

"Pasar saham biasanya kesulitan ketika The Fed mulai menaikkan suku bunga, tetapi kami memperkirakan pasar bullish masih akan berlanjut," katanya.

Menurut Goldman Sachs, indeks S&P 500 rata-rata turun 2% dalam tiga bulan setelah dimulainya tujuh siklus kenaikan suku bunga dalam beberapa dekade terakhir.

Namun, dalam 12 bulan setelah kenaikan suku bunga pertama, indeks tersebut justru mencatat rata-rata kenaikan 9%.

Selain The Fed, investor juga mengantisipasi kebijakan Bank of Japan (BOJ). Pasar memperkirakan sekitar 76% peluang BOJ menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% dalam pertemuan Jumat mendatang.

BOJ juga diperkirakan memberikan sinyal hawkish terkait kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut.

Bank sentral Jepang masih menghadapi tantangan untuk mencegah pelemahan kembali yen setelah intervensi pasar sebelumnya membantu menopang mata uang tersebut dari level terendah dalam 40 tahun.

Di pasar valuta asing, dolar AS berada di level 153,49 yen. Dolar telah melemah sekitar 4% dalam dua pekan terakhir dan menjauh dari level tertingginya pada Juli sebesar 163,99 yen.

Euro relatif stabil di US$ 1,1592 setelah menemukan support di sekitar US$ 1,1570 pada Jumat lalu. Poundsterling juga bergerak datar di US$ 1,3522.

Sementara itu, Bank of England (BoE) diperkirakan mempertahankan suku bunga di level 3,75% dalam pertemuan Kamis mendatang, meskipun keputusan tersebut kembali berpotensi diwarnai perbedaan pandangan di antara para pengambil kebijakan.

Di pasar komoditas, harga emas turun 0,3% menjadi US$ 4.336 per ons troi. Kenaikan imbal hasil obligasi membuat daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga ikut berkurang.