English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Harga Minyak Tembus US$ 109, Pasar Global Kembali Dibayangi Inflasi

KONTAN · 1 Views

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar keuangan global kembali tertekan pada Jumat (11/9/2026) setelah lonjakan harga minyak mentah meningkatkan risiko inflasi dan mendorong investor memperkirakan pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral di berbagai negara.

Harga minyak Brent melonjak sekitar 6% dalam perdagangan semalam dan menyentuh US$ 109,97 per barel pada Jumat, level tertinggi dalam empat bulan.

Kenaikan ini terjadi ketika arus minyak masih terganggu di Selat Hormuz di tengah saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Situasi geopolitik juga memburuk setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran mengambil alih pelabuhan Mocha di Yaman. Perkembangan tersebut meningkatkan ancaman terhadap ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah.

Analis RBC Capital Markets menilai eskalasi konflik di Yaman telah meningkatkan risiko terhadap lalu lintas maritim di kawasan Bab el-Mandeb. RBC memperkirakan harga Brent berpotensi mencapai US$ 121,99 per barel pada kuartal IV 2026.

"Pasar mulai memperhitungkan risiko perang yang berkepanjangan," tulis analis RBC Capital Markets.

Lonjakan harga minyak menjadi perhatian serius bagi pasar karena berpotensi kembali mendorong inflasi.

Kondisi tersebut memicu kenaikan imbal hasil obligasi secara global karena investor mulai meningkatkan taruhan terhadap kenaikan suku bunga bank sentral.

Di AS, imbal hasil obligasi pemerintah atau US Treasury tenor 10 tahun melonjak dan mendekati level 5%. Imbal hasil tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2007, sedangkan imbal hasil tenor dua tahun naik 12 basis poin dalam semalam.

Pasar kini memperkirakan peluang Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga pada bulan ini mencapai 68%. Perhatian investor selanjutnya tertuju pada data inflasi konsumen AS Agustus yang akan dirilis pada Jumat.

Konsensus memperkirakan inflasi inti atau core CPI AS naik 0,2% secara bulanan. Namun, risiko kenaikan inflasi dinilai lebih besar setelah data producer price index (PPI) yang dirilis sebelumnya menunjukkan tekanan harga yang masih bertahan.

Tekanan juga terlihat di pasar obligasi Asia. Imbal hasil obligasi pemerintah Australia tenor tiga tahun melonjak 17 basis poin menjadi 5,037%, level tertinggi dalam 15 tahun.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 2,965%.

JPMorgan memperkirakan delapan dari sembilan bank sentral negara maju atau developed markets (DM) yang dipantaunya akan menaikkan suku bunga hingga akhir tahun.

Proyeksi tersebut mencakup The Fed, Bank of Japan (BoJ), empat bank sentral Eropa, serta bank sentral Australia dan Selandia Baru.

"Pengetatan kebijakan diperkirakan masih dangkal, tetapi risikonya mengarah pada langkah yang lebih agresif," tulis analis JPMorgan.

Kenaikan imbal hasil obligasi turut menekan pasar saham karena meningkatkan tingkat diskonto yang digunakan dalam valuasi perusahaan.

Bursa saham Asia bergerak melemah, dengan Nikkei Jepang anjlok 2,8%, KOSPI Korea Selatan turun 2,7%, sedangkan indeks saham Australia yang didominasi sektor sumber daya terkoreksi 1%.

Di pasar AS, kontrak berjangka Nasdaq turun 0,2%, sementara kontrak berjangka S&P 500 relatif datar.

Penguatan imbal hasil US Treasury juga menopang dolar AS. Mata uang tersebut menguat 0,4% terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan semalam dan berada di level 99,06 pada Jumat.

Sementara itu, harga emas bertahan di sekitar US$ 4.317 per ons setelah sebelumnya turun hampir 2%. Emas belum sepenuhnya mendapat aliran dana sebagai aset lindung nilai meski tekanan di pasar global meningkat.