English
Bahasa Indonesia
English
Sign In
Sign Up
0
Market AnalysisMarket Analysis

Market Analysis

Dunia Tak Baik-Baik Saja: Harga Minyak US$ 101, Bunga Obligasi AS Naik

CNBC Indonesia · 1 Views

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam. Bursa saham dan obligasi ditutup menguat sementara rupiah bergerak melemah.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan bergerak hijau walaupun masih akan menghadapi tantangan pada hari ini terutama karena perang yang belum menemukan titik terangnya serta potensi supply chain yang terganggu akibat bencana alam yang melanda Indonesia dari berbagai macam spektrum.

Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi pada perdagangan kemarin, Rabu (9/9/2026). Pada akhir sesi kedua, IHSG turun 8,21 poin atau 0,12% ke level 6.678,20.

Berdasarkan data pasar, sepanjang perdagangan intraday kemarin IHSG menyentuh level tertinggi sementara 6.707,30 dan terendah 6.642,15. Sebanyak 308 saham menguat, 317 saham melemah, dan 169 saham stagnan.

Adapun volume perdagangan pada awal sesi mencapai 34,5 miliar saham, berpindah tangan 2,17 juta kali dengan nilai transaksi sekitar Rp 16,16 triliun.

Pada perdagangan kemarin, terpantau asing membukukan net foreign inflow sebesar Rp 438,9 miliar di all market dan mencatatkan net foreign outflow pula di pasar reguler sebesar Rp 621,40 miliar

Sehingga apabila data ditarik secara year-to-date bursa saham mengalami net foreign outflow sebesar Rp 67,76 triliun di all market dan Rp 96,32 triliun di reguler market.

Mengutip data Refinitiv, mayoritas sektor perdagangan melemah dengan koreksi paling dalam dibukukan sektor konsumer non primer, kesehatan dan finansial.

Secara spesifik, Bank Central Asia (BBCA) menjadi pemberat utama kinerja IHSG kemarin dan menyeret penurunan 14 poin ke indeks gabungan.

Sentimen pasar kemarin bergerak beragam. Sejumlah data ekonomi yang diumumkan kemarin memberikan sinyal positif bagi pasar Asia, terutama setelah pertumbuhan ekonomi Jepang direvisi lebih tinggi dan surplus perdagangan China kembali melebar.

Sentimen pasar juga dibayangi meningkatnya ketegangan perang Iran dan perdagangan di Amerika Utara setelah Kanada memberlakukan tarif balasan terhadap produk Amerika Serikat.

Pada perdagangan kemarin, investor mencermati inflasi China dan keyakinan konsumen Indonesia. Kedua indikator tersebut dapat memengaruhi pergerakan yuan, rupiah, harga komoditas, dan pasar saham regional.

Lanjut ke pasar Rupiah, Nilai tukar rupiah berhasil menutup perdagangan kemarin dengan penguatan tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Rabu (9/9/2026), rupiah mampu terapresiasi hingga 0,71% ke posisi Rp17.500/US$.

Posisi tersebut menjadi level penutupan terkuat rupiah sejak 15 Mei 2026 atau hampir 17 pekan terakhir.

Rupiah sejatinya sudah mengawali perdagangan dengan penguatan 0,31% ke level Rp17.570/US$. Penguatannya kemudian bertambah 70 poin hingga penutupan.

Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh level terkuat kemarin di Rp17.490/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,15% ke posisi 98,642.

Penguatan rupiah kemarin sejalan dengan pelemahan dolar AS di pasar global. Penurunan DXY membuka ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

DXY bahkan sempat menyentuh posisi 98,630, level terendahnya dalam hampir tiga pekan. Tekanan terhadap dolar datang dari penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan berlanjutnya penguatan yen Jepang.

Penurunan imbal hasil obligasi AS mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar. Pada saat yang sama, yen terus menguat menjelang keputusan suku bunga Bank of Japan (BOJ) dan The Federal Reserve (The Fed) pada pekan depan.

Pasar hampir sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga BOJ dalam pertemuan pekan depan. Ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Jepang membuat yen menguat dan turut menekan indeks dolar AS.

Sementara dari sisi Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia mengalami kenaikan hal ini mengindikasikan investor didominasi oleh penjual dibandingkan dengan pembeli di pasar.

SBN bergerak melemah ke level 7,095% pada perdagangan Rabu kemarin, di mana pada hari sebelumnya imbal hasil SBN 10 tahun terpantau ditutup pada level 7,088%