

Market Analysis
Harga Emas Dunia Naik 1,4 Persen di Atas 4,400 Dollar AS

NEW YORK, KOMPAS.com - Harga emas dunia menguat lebih dari 1 persen pada akhir perdagangan Rabu (9/9/2026) atau Kamis (10/9/2026) pagi WIB seiring melemahnya dollar AS.
Sementara investor menantikan sejumlah data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Mengutip Reuters, harga emas spot naik 1,4 persen menjadi 4.414,30 dollar AS per troy ounce.
Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember 2026 naik 0,5 persen menjadi 4.458,80 dollar AS per troy ounce.
"Ada sedikit kondisi yang mendukung pasar emas karena dollar AS belakangan ini berada di bawah tekanan ringan," ujar Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger.
Dollar AS berada di sekitar level terendah dalam dua pekan.
Kondisi tersebut membuat emas yang dihargai dalam dollar AS menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Di sisi lain, harga minyak mentah menembus level 100 dollar AS per barrel di tengah meluasnya konflik di Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan tekanan inflasi.
Kepala Analisis Pasar StoneX Rhona O'Connell mengatakan, kenaikan harga minyak saat ini memiliki dampak terhadap inflasi, tetapi gangguan pada pengiriman dan rantai pasok juga turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi.
"Kali ini, harga minyak yang lebih tinggi memberikan dorongan inflasi, tetapi penyebabnya, yaitu gangguan pengiriman dan rantai pasok, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi karena secara keseluruhan kebijakan moneter lebih berfokus pada pengendalian inflasi dibandingkan pada periode-periode sebelumnya," ucap Kepala Analisis Pasar StoneX Rhona O'Connell.
Adapun Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat naik ke level tertinggi sejak November 2023 sebelum kembali turun.
Pelaku pasar kini menantikan data indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS yang akan dirilis pekan ini pada Kamis (10/9/2026), disusul data inflasi konsumen pada Jumat (11/9/2026).
Data tersebut menjadi perhatian investor karena dapat memberikan petunjuk mengenai kebijakan moneter The Fed, termasuk arah suku bunga pada pertemuan pekan depan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang sekitar 60 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan The Fed pekan depan.

