

Market Analysis
Saham Cip Asia Menguat Ditopang AI, Konflik Timteng Bayangi Pasar

Bloomberg Technoz, Saham perusahaan cip di Asia diperkirakan dibuka menguat seiring berlanjutnya minat investor terhadap tema kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, pasar secara lebih luas diperkirakan berada di bawah tekanan akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak Brent mendekati US$100 per barel.
Kontrak berjangka indeks saham Korea Selatan mengarah menguat setelah Philadelphia Semiconductor Index atau SOX naik 1,3% di New York. Sementara itu, kontrak saham Jepang mengindikasikan pelemahan pada perdagangan Rabu (9/9). Kontrak berjangka saham AS bergerak tipis setelah indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 melemah ketika perdagangan kembali dibuka usai libur nasional.
Harga minyak mentah AS naik lebih dari 1% pada awal perdagangan Rabu, sementara minyak Brent bertahan di dekat US$100 per barel setelah mencapai level tertinggi sejak akhir Juli. Kenaikan tersebut terjadi setelah serangkaian serangan kembali menghantam infrastruktur energi di Timur Tengah, termasuk serangan AS di dekat pusat ekspor utama Pulau Kharg dan kota pelabuhan Jask. Imbal hasil obligasi Treasury AS jangka pendek naik, sementara pasar uang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) bulan ini lebih dari 50%.Dengan perang yang kini memasuki bulan ketujuh, serangan kembali terhadap infrastruktur energi berisiko mempertahankan harga minyak di level tinggi dan memperumit prospek inflasi serta suku bunga. Investor akan mencermati apakah eskalasi terbaru akan semakin mengganggu pasokan, dengan laporan inflasi konsumen AS pada Jumat mendatang menjadi ujian penting berikutnya bagi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve bulan ini.
Oil Climbs on Middle East Hostilities. (Sumber: ICE)
“Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan harga minyak, pasar mungkin akan sulit untuk berfokus pada hal lain di luar pembahasan mengenai inflasi,” kata Chris Larkin dari E*Trade milik Morgan Stanley.
Meskipun AS mengatakan telah mengalihkan sebagian besar fokusnya ke tekanan ekonomi terhadap Iran, kekerasan yang terus berulang membuat konflik tetap berlangsung.
Sebelumnya, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa sebuah rudal AS menghantam kapal tanker Iran di lepas pantai Kharg. Seluruh awak kapal tanker di dekat dermaga Kuwait dan Bahrain harus “segera meninggalkan kapal mereka, baik yang sedang berlabuh maupun bersandar di dermaga, karena mereka akan menjadi sasaran,” lapor televisi pemerintah Iran, mengutip pernyataan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
AS dan Iran telah terlibat perebutan kendali atas Selat Hormuz selama berbulan-bulan. Teheran sebagian besar menutup jalur pelayaran tersebut setelah pasukan AS dan Israel melancarkan perang pada akhir Februari. Sebelum konflik, jalur perairan itu menangani sekitar seperlima pasokan minyak global, dan penutupannya turut mendorong lonjakan harga energi.
Di pasar mata uang, yen melanjutkan penguatannya dan diperdagangkan di sekitar 153,77 per dolar AS setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan dirinya memiliki “pemahaman yang baik” mengenai langkah yang akan diambil Bank of Japan (BoJ) terhadap mata uang Jepang. Di sisi lain, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS sedikit melemah.
Setelah laporan ketenagakerjaan AS pekan lalu lebih kuat dari perkiraan, perhatian kini beralih ke data harga konsumen yang akan dirilis Jumat untuk mencari petunjuk apakah The Fed akan menaikkan suku bunga bulan ini.
Para ekonom memperkirakan indeks harga konsumen (IHK) naik 0,4% pada Agustus, lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebagian dipengaruhi kenaikan harga bensin. Di luar komponen makanan dan energi yang bergejolak, inflasi inti diproyeksikan meningkat lebih moderat sebesar 0,2%, berdasarkan estimasi median dalam survei Bloomberg.
Angka tersebut akan menurunkan ukuran inflasi inti secara tahunan menjadi 2,4%, atau kenaikan tahunan terkecil sejak 2021.
“Bersiaplah menghadapi pekan yang bergejolak, dengan data inflasi yang akan mengubah ekspektasi pasar terkait kemungkinan The Fed mempertahankan atau menaikkan suku bunga pekan depan — serta berdampak lanjutan terhadap pasar aset yang lebih luas,” tulis strategis Evercore ISI Krishna Guha dalam catatan pada Selasa.

